kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Pengusaha karet minta pemerintah dorong insentif hilir produk jadi karet


Senin, 29 Oktober 2018 / 16:23 WIB

Pengusaha karet minta pemerintah dorong insentif hilir produk jadi karet
ILUSTRASI. Petani menyadap getah karet

Berita Terkait

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) berharap pemerintah dapat mempertimbangkan berikan insentif dan dorongan untuk menciptakan iklim pertumbuhan pabrik hilirisasi produk karet.

Pasalnya, dorongan selama ini lebih pada produk antara karet remah, alias crumb rubber, dan tidak pada produk hilir jadi yang memiliki nilai tambah lebih.


Ketua Umum Gapkindo Moenardji Soedargo menyampaikan untuk saat ini, konsumsi industri dalam negeri pada produk karet alam jadi baru mencapai 600.000 ton per tahun. Sumber bahannya berasal dari karet remah (crumb rubber / SIR20) yang juga dipasok oleh anggota Gapkindo.

"Sektor ini masih tepat untuk ditingkatkan. Karena kapasitas terpasang yang sudah melebihi produksi bahan baku karet alam dari tingkat hulunya adalah di sektor Industri antara, yaitu pengolahan karet remah," jelasnya kepada Kontan.co.id, Senin (29/10).

Memang industri karet sempat menyampaikan adanya kondisi kapasitas industri terpasang berlebih. Dalam catatan Kontan.co.id, kapasitas terpasang pengolahan karet sebesar 5,7 juta ton, tetapi produksi karet mentah yang jadi bahan baku hanya 3,4 juta ton.

Namun Moenardji meluruskan sektor yang mengalami kondisi jenuh terletak pada sektor industri antara, yaitu pada industri pengolahan karet remah yang juga anggota Gapkindo.

Moenardji menyampaikan, pihaknya senantiasa selalu mengingatkan pemerintah agar tidak membuka investasi pengolahan crumb rubber ini. Melainkan di sektor industrinya yang lebih hilir berupa ban, dock fender dan conveyor belt karena memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.

Oleh karenanya, pengusaha karet berharap pemerintah bisa mengeluarkan skema insentif untuk tingkatkan produktivitas hilir karet dalam negeri untuk memberi nilai tambah untuk perdagangan dalam dan luar negeri.


Reporter: Tane Hadiyantono
Editor: Yudho Winarto

Video Pilihan


Close [X]
×