kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Pengusaha ritel pantau kenaikan barang impor


Kamis, 13 Agustus 2015 / 09:39 WIB


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Adi Wikanto

JAKARTA. Aksi pemerintah China melakukan devaluasi terhadap nilai tukar harian yuan tidak selamanya menguntungkan bagi pengimpor barang asal negeri tirai bambu tersebut.

Tutum Rahanta, Ketua Pelaksana Harian Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, mengatakan, devaluasi yuan tidak menguntungkan bagi pengusaha ritel. Pasalnya, impor barang masih menggunakan mata uang valuta asing (valas) yakni dollar Amerika Serikat (AS) yang sedang menguat ini sehingga akan berdampak pada kenaikan harga belanja barang. "Pengusaha ritel baru akan merasa kenaikannya pada 1 minggu-2 minggu kedepan," katanya, kemarin malam.

Namun, pengusaha ritel tidak akan serta merta menaikan harga barang karena daya beli konsumen menurun di tengah perlambatan ekonomi ini. Jika harga barang naik, maka tingkat belanja konsumsi akan menurun dan akan berdampak pada pendapatan perusahaan ritel. "Kami berharap perekonomian membaik sehingga akan mendorong masyarakat untuk berkonsumsi," tambahnya.

Lanjutnya, porsi impor barang ritel itu memiliki porsi 30%-40% terhadap total barang keseluruhan perusahaan ritel. Nah, dari hasil impor tersebut ada yang berasal dari China, seperti mainan dan pakaian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×