kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.004.000   -55.000   -1,80%
  • USD/IDR 16.978   18,00   0,11%
  • IDX 7.321   -264,62   -3,49%
  • KOMPAS100 1.020   -39,96   -3,77%
  • LQ45 749   -27,08   -3,49%
  • ISSI 256   -10,71   -4,01%
  • IDX30 396   -14,53   -3,54%
  • IDXHIDIV20 491   -15,97   -3,15%
  • IDX80 115   -4,31   -3,63%
  • IDXV30 133   -4,52   -3,29%
  • IDXQ30 128   -4,76   -3,59%

Konflik Timur Tengah Mengerek Harga Pupuk Urea Global, Ini Kata Petani Jagung


Minggu, 08 Maret 2026 / 18:05 WIB
Konflik Timur Tengah Mengerek Harga Pupuk Urea Global, Ini Kata Petani Jagung


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI) menilai harga pupuk di tingkat petani masih terkendali meskipun harga pupuk urea global meningkat imbas konflik Timur Tengah.

Berdasarkan Trading Economics, pada Kamis (5/3/2026), harga urea meningkat 1,57% dari perdagangan sebelumnya ke level US$ 585,3 per ton.

Ketua Umum APJI, Sholahuddin mengatakan bahwa petani pangan termasuk jagung saat ini rata-rata menggunakan pupuk subsidi. Hingga saat ini, harga pupuk subsidi belum mengalami peningkatan.

"Dampaknya itu dirasakan negara, jika harga dasar dari industri naik, otomatis subsidinya yang akan naik. Negara yang menanggung kenaikan itu," ujarnya saat dihubungi Kontan, Minggu (8/3/2026).

Baca Juga: APJI Minta Bulog Lengkapi Fasilitas Silo dan Dryer untuk Dukung Ekspor Jagung

Jika konflik global berlanjut dan harga pupuk subsidi meningkat pun, kata Sholahuddin, petani tak akan terlalu terbebani selama harga panen masih terjaga.

Apalagi, lanjutnya, mengingat Menteri Pertanian telah menerapkan kebijakan penurunan harga pupuk subsidi 20% yang berlaku sejak Oktober 2025.

"Kalaupun akan naik, setidaknya kembali ke harga awal, karena kemarin (sejak Oktober 2025) kan turun 20%," jelasnya. 

Kendati demikian, apabila terjadi kenaikan harga produk penunjang seperti herbisida, pestisida, atau fungisida, maka biaya produksi petani disebut berpotensi ikut meningkat.

Baca Juga: Kualitas Pasca Panen Jadi Kunci Peningkatan Ekspor Jagung Indonesia

Kenaikan harga bahan-bahan tersebut, lanjutnya, tidak bisa dihindari apabila industri terkait juga mengalami peningkatan biaya produksi akibat konflik berkelanjutan. Meskipun, biaya produksi untuk produk-produk penunjang tersebut menurutnya tidak terlalu besar.

Sholahuddin menambahkan, saat ini, yang diwaspadai oleh petani jagung adalah perubahan iklim. Di mana, lanjutnya, BMKG memprediksi akan terjadi kemarau berkepanjangan di Mei sampai mungkin Oktober. 

"Di situlah bagi petani jagung yang di lahan-lahan sawah yang kurang air, tidak ada irigasi teknis, mungkin akan kesulitan," ujarnya.

Baca Juga: Pupuk Indonesia Mitigasi Dampak Perang Iran, Stok Bahan Baku Aman Hingga Enam Bulan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×