kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.650.000   17.000   0,65%
  • USD/IDR 18.087   -43,00   -0,24%
  • IDX 5.899   -13,21   -0,22%
  • KOMPAS100 767   -1,93   -0,25%
  • LQ45 586   -1,59   -0,27%
  • ISSI 203   0,07   0,03%
  • IDX30 331   -1,21   -0,36%
  • IDXHIDIV20 410   -0,84   -0,20%
  • IDX80 88   -0,10   -0,12%
  • IDXV30 112   0,67   0,60%
  • IDXQ30 107   -0,57   -0,53%

Penjualan Mobil Tumbuh 15,9% pada Semester I-2026, Pemulihan Dinilai Belum Merata


Jumat, 10 Juli 2026 / 14:28 WIB
Penjualan Mobil Tumbuh 15,9% pada Semester I-2026, Pemulihan Dinilai Belum Merata
ILUSTRASI. Diler Honda - ilustrasi mobil baru, multifinance (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja industri otomotif nasional menunjukkan perbaikan sepanjang semester pertama 2026. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, pemulihan pasar dinilai masih berlangsung bertahap dan belum merata di semua segmen.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil secara wholesales pada Januari–Juni 2026 mencapai 436.564 unit, tumbuh 15,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 376.707 unit.

Sementara itu, penjualan retail tercatat 433.848 unit pada semester I-2026 atau naik 10,5% secara tahunan dari 392.778 unit.

Khusus Juni 2026, penjualan wholesales mencapai 77.550 unit, meningkat 12% dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 69.219 unit. Adapun retail sales naik 3,6% menjadi 74.507 unit dari 71.890 unit pada bulan sebelumnya.

Secara tahunan, wholesales melonjak 32,9% dari 58.363 unit pada Juni 2025 menjadi 77.550 unit. Sedangkan retail sales tumbuh 19,6% dari 62.292 unit menjadi 74.507 unit.

Pakar Otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu menilai, pertumbuhan wholesales sebesar 15,9% memang patut diapresiasi. Namun, ia mengingatkan agar angka tersebut dibaca secara hati-hati.

Baca Juga: Gaikindo Ungkap Faktor Pendorong Penjualan Mobil Melaju pada Semester I-2026

“Sebagian kenaikan masih dipengaruhi efek basis rendah karena kinerja tahun lalu relatif lemah, ditambah lonjakan penjualan kendaraan niaga ringan hingga Mei,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (9/7/2026).

Selain itu, menurut Yannes, pemulihan juga didorong oleh permintaan dari segmen menengah atas dan korporasi, promosi agresif agen pemegang merek (APM), serta masuknya berbagai merek baru, khususnya asal China, yang menawarkan harga lebih kompetitif dan teknologi lebih modern.

Ia juga menyoroti pertumbuhan wholesales yang lebih tinggi dibanding retail sales, yang mengindikasikan adanya pengisian stok diler menjelang pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS).

“Industri memang sedang pulih, tetapi pemulihannya masih bertahap dan belum merata di semua segmen,” jelasnya.

Dari sisi merek, Toyota masih memimpin pasar wholesales pada Juni 2026 dengan penjualan 22.809 unit, meskipun turun dari 24.846 unit pada Mei 2026. Daihatsu berada di posisi kedua dengan 14.125 unit, disusul Suzuki sebanyak 6.057 unit.

Semester II Cenderung Melandai

Memasuki semester kedua 2026, Yannes memproyeksikan pasar otomotif masih berpotensi tumbuh, meski dengan laju yang lebih moderat.

Ia menilai target penjualan Gaikindo sebesar 850.000 unit hingga akhir tahun masih realistis. Hal ini mengingat kebutuhan penjualan pada paruh kedua relatif lebih rendah dibanding semester pertama.

Baca Juga: Penjualan Mobil yang Naik Belum Bisa Menjadi Bukti Daya Beli Pulih

Momentum pameran GIIAS, peluncuran model baru, serta potensi insentif otomotif diperkirakan menjadi katalis positif bagi penjualan.

Namun demikian, dampak kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,75% diperkirakan mulai terasa pada kuartal III dan IV 2026.

“Kenaikan bunga akan membuat cicilan kredit lebih mahal dan seleksi pembiayaan semakin ketat, sehingga pasar cenderung bergerak melandai, bukan melonjak,” ujarnya.

Ia menambahkan, belum adanya perbaikan signifikan pada daya beli kelas menengah juga menjadi faktor penahan pertumbuhan pasar otomotif.

Yannes memaparkan setidaknya ada empat tantangan utama yang dihadapi industri otomotif saat ini.

Pertama, kenaikan suku bunga yang berpotensi menekan penyaluran kredit kendaraan dalam satu hingga dua kuartal ke depan. Kedua, pelemahan nilai tukar rupiah yang berpotensi menembus Rp 18.000 per dolar AS, sehingga meningkatkan biaya impor komponen dan berpotensi mendorong kenaikan harga kendaraan.

Ketiga, daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah, yang belum sepenuhnya pulih sehingga konsumen cenderung menahan pembelian. Terakhir, kebijakan pemerintah di sektor otomotif yang dinilai kerap berubah, sehingga mendorong sikap wait and see baik dari konsumen maupun investor.

Baca Juga: Gaikindo Ungkap Desain dan Teknologi Baru Dongkrak Penjualan Mobil hingga Semester I

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU

[X]
×