kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,31   -15,20   -1.62%
  • EMAS1.345.000 0,75%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Penjualan Sepeda di Pasar Rumput Terus Menyusut


Selasa, 23 Januari 2024 / 20:16 WIB
Penjualan Sepeda di Pasar Rumput Terus Menyusut
ILUSTRASI. Setelah pandemi dinyatakan usai penjualan sepeda justru menyusut. KONTAN/Cheppy A. Muchlis


Reporter: Rashif Usman | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Situasi pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu membuat tren bersepeda menjadi salah satu olahraga yang banyak diminati masyarakat Indonesia. Tak hanya dinilai menyehatkan, tren tersebut juga membuat para pedagang sepeda meraup untung besar.

Pedagang sepeda, Muson Habibi (48) mengenang masa kejayaan bisnisnya selama masa pandemi. Dirinya mengatakan, kala itu stok sepeda sampai habis di gudang saking ramainya pembeli. Bahkan ia menyebutkan 100% unit pun bisa terjual dalam sehari.

"Stoknya sampai habis semua dan gudang-gudang sepeda di Jakarta kosong," kata Muson saat ditemui Kontan di kawasan Pasar Rumput, Jakarta Selatan, Selasa (23/1).

Pedagang lainnya, Anjasmara (44) mengatakan pandemi membuat semua pedagang di kawasan Pasar Rumput merasakan berkah yang luar biasa dari penjualan sepeda.

"Masa pandemi kita bisa jual 15 unit sehari, paling rendah 10 unit," ucapnya.

Baca Juga: Pilih Bersepeda, Menjala Pasar

Penjualan Sepeda Menyusut

Kini, setelah pandemi dinyatakan usai penjualan sepeda justru menyusut. Muson menyebutkan saat ini penjualan unit tak sampai 10% dari total stok yang ada. 

Dari segi omzet pun turun drastis. Sebagai perbandingan, dirinya bisa meraup omzet Rp 20 juta hingga Rp 40 juta dalam sehari saat pandemi.

"Kalau sekarang dapat omzet Rp1 juta sampai Rp 2 juta saja sudah bagus," tuturnya.

Sementara dari sisi unit penjualan kala itu Muson bisa menjual 30-40 unit dalam sehari. Untuk mendongkrak kinerja penjualan, Muson kini mulai berjualan melalui toko online.

"Saya mulai jualan online sejak 2-3 tahun lalu. Dari situ penjualan ikut terbantu 1-2 unit. Tapi waktu pandemi itu kita enggak banyak mengurus penjualan online karena secara offline aja sudah kelimpungan," terangnya. 

Sementara, Anjasmara mengaku bisnisnya terus tergerus pasca pandemi. Jika dulu bisa menjual hingga 15 unit per hari, sekarang 1 unit terjual saja diirinya sudah cukup bersyukur.

"Di tahun 2023 dan awal 2024 ini jangankan pegang duit, untuk cari penglaris saja susah. Kalau dulu saya dapat keuntungan laba bersih Rp120 juta sepanjang tahun 2020 hingga awal 2021. Kalau sekarang makin kesini (penjualan) makin merosot," terangnya.

Masih di kawasan yang sama, pedagang sepeda lainnya, Joko Pribadi (27) mengungkapkan pasca pandemi tren penjualan turun drastis. Sama seperti Muson, dirinya pun kini mulai merambah bisnisnya melalui toko online.

"Kalau sekarang ya bisa dilihat sendiri saja. Sudah satu bulan belakangan ini engga ada pembeli sama sekali (secara offline). Kebetulan saya buka toko online di Bukalapak karena disana bisa nego langsung," jelasnya.

Menjelang Puasa dan Lebaran

Tren penjualan pun tak hanya disebabkan turunnya aktivitas masyarakat dalam bersepeda. Faktor menjelang Ramadan dan Lebaran pun membuat membuat bisnis para pedagang lesu.

Anjasmara memprediksi turunnya penjualan ini karena para pembeli lebih banyak mengalihkan uangnya untuk keperluan Puasa dan Lebaran.

"Masa menjelang puasa juga menjadi pengaruh turunnya pendapatan pedagang. Itu terjadi setiap tahun, tiga bulan sebelum puasa itu merosot banget," kata Anjas.

Senada, Muson menjelaskan bahwa menjelang Puasa dan Lebaran setiap tahunnya pasti memiliki pengaruh terhadap penjualan sepeda.

"Itu pasti menurun. Pokoknya kalau sudah mau puasa atau Lebaran itu pedagang juga pada malas buka toko," ucapnya sambil berkelakar.

Baca Juga: Penjualan Sepeda Tak Lagi Melaju

Harga Jual Jatuh

Muson menjelaskan kini banyak para pelanggan yang menjual kembali sepedanya yang dibeli saat pandemi lalu. Harga jual kembalinya pun merosot drastis.

"Sekarang pada dijualin lagi. Paling-paling dihargai Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu, terus kita sebagai pedagang jual lagi di harga Rp 900 ribu hingga Rp 1 juta. Yang penting ada untungnya ya kita jual," paparnya.

Anjasmara juga mengatakan hal yang sama, dulu para pembeli di masa pandemi membeli satu unit sepeda di harga Rp2 juta hingga Rp 5 juta. Namun kini harga jual kembalinya hanya dibanderol maksimal Rp 500 ribu.

"Para pembeli baru sepeda ini kebanyakan menjual lagi sepedanya pasca pandemi. Dulu dia beli sampai Rp 5 juta sekarang dijual kembali paling Rp 500 ribu. Sekarang sudah nyungsep harganya," paparnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Sales and Operations Planning (S&OP) Negosiasi & Mediasi Penagihan yang Efektif Guna Menangani Kredit / Piutang Macet

[X]
×