Reporter: Leni Wandira | Editor: Noverius Laoli
Kondisi tersebut kemudian membuat persediaan di tingkat distributor terlalu tinggi.
“Dulu itu sales kita diberi diskon. Jadi kalau distributor ngambil dapat potongan. Yang ngambil banyak ya otomatis stoknya jadi banyak di tempat mereka,” jelasnya.
Setelah penyesuaian dilakukan, SIDO kini berupaya menjaga tingkat persediaan distributor agar lebih normal. Irwan menilai langkah tersebut memang memberikan tekanan terhadap penjualan yang tercatat dalam jangka pendek, tetapi tidak diikuti penurunan permintaan pasar.
Di sisi lain, SIDO juga masih mengembangkan produk baru sebagai bagian dari strategi penjualan. Irwan menyebut perseroan telah meluncurkan produk baru, termasuk Tolak Linu Sleep serta generasi baru produk jamu serbuk yang dikembangkan tanpa ampas.
Baca Juga: Kinerja Semester I-2026 Turun, Bumi Resource Minerals (BRMS) Ungkap Penyebabnya
Selain produk baru, sejumlah produk yang sudah ada juga disebut masih mencatat pertumbuhan. Irwan menyebut produk seperti minuman energi dan Endangin masih menunjukkan perkembangan penjualan.
Untuk pasar ekspor, SIDO juga masih mengintensifkan penjualan ke sejumlah negara. Irwan mengatakan pertumbuhan ekspor masih terlihat pada produk minuman energi di Afrika, Endangin, serta produk food supplement.
Dari sisi kanal penjualan, penjualan offline masih menjadi kontributor yang lebih besar dibandingkan online. Namun, Irwan mengatakan kanal online mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi.
Dengan normalisasi persediaan distributor dan tren permintaan yang disebut mulai pulih sejak kuartal III, SIDO berharap tekanan penjualan akibat inventory adjustment dapat berkurang pada paruh kedua tahun ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














