kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Penurunan impor BBM Ron 88 dibalas dengan kenaikan impor Ron 92


Rabu, 26 Desember 2018 / 23:05 WIB

Penurunan impor BBM Ron 88 dibalas dengan kenaikan impor Ron 92
ILUSTRASI. Aktifitas Petugas di Salah Satu SPBU

Berita Terkait

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Volume impor Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Ron 88 (Premium) per November 2018 mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Jika pada November tahun 2017 volume impor berada di angka 9,4 juta KL, maka selama 11 bulan terakhir ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat impor Ron 88 turun menjadi 8,2 juta KL.


Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar meyakini, penurunan impor BBM jenis ini terjadi karena adanya perpindahan konsumsi, dari yang semula memakai Premium menjadi Pertalite dan Pertamax atau bensin di atas Ron 92.

"Salah satunya migrasi konsumsi yang tadinya menggunakan Premium ke Pertalite dan Pertamax," kata Arcandra saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM pada Rabu (26/12).

Sebab, berdasarkan data yang tercatat oleh Kementerian ESDM, volume impor Ron 92 justru mengalami peningkatan. Per November 2018, volume impor BBM jenis ini sebesar 8,5 juta KL. Lebih besar dari periode yang sama tahun lalu, yakni 6,6 juta KL.

Meski demikian, yang jelas, menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), defisit di sektor migas menjadi penyumbang terbesar bagi defisit neraca perdagangan pada November 2018, di mana neraca perdagangan pada periode ini membukukan defisit sebesar US$ 2,05 miliar.

Seperti yang sebelumnya telah diberitakan dalam Kontan.co.id, defisit disumbang oleh defisit migas sebesar US$ 1,5 miliar dan defisit non-migas US$ 0,58 miliar.

Adapun, nilai impor migas sebesar US$ 2,84 miliar sedangkan ekspornya US$ 1,37 miliar, yang mengantarkan pada defisit migas sebesar US$ 1,46 miliar.

Defisit migas sendiri disumbang oleh defisit minyak mentah sebanyak US$ 0,48 miliar dan defisit hasil minyak US$ 1,58 minyak. Sedangkan gas tercatat surplus US$ 0,59 miliar.

"Penyebabnya defisit migas dan non-migas. Khusus untuk migas disumbang terutama dari hasil minyak," ungkap Suhariyanto, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), pada Senin (17/12).


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana
Editor: Yudho Winarto

Video Pilihan

Tag

Close [X]
×