CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   -17.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.529   -129,00   -0,73%
  • IDX 6.678   -8,24   -0,12%
  • KOMPAS100 877   0,02   0,00%
  • LQ45 664   -1,33   -0,20%
  • ISSI 234   0,36   0,15%
  • IDX30 369   -2,14   -0,58%
  • IDXHIDIV20 457   -1,61   -0,35%
  • IDX80 100   -0,15   -0,15%
  • IDXV30 127   -0,14   -0,11%
  • IDXQ30 118   -0,39   -0,33%

Perang Harga EV China Berpotensi Dongkrak Penjualan Mobil Listrik di Indonesia


Rabu, 09 September 2026 / 17:36 WIB
Perang Harga EV China Berpotensi Dongkrak Penjualan Mobil Listrik di Indonesia
ILUSTRASI. Persaingan kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) diproyeksikan makin ketat seiring produsen asal China yang terus memperluas pasar ekspor (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persaingan kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) diproyeksikan semakin ketat seiring produsen asal China yang terus memperluas pasar ekspor.

Kondisi tersebut berpotensi membuat harga dan paket penawaran kendaraan listrik di Indonesia semakin kompetitif, sehingga dapat mendorong pertumbuhan penjualan EV ke depan.

Ahli otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menilai potensi ekspansi EV China ke Indonesia masih sangat besar. Namun, pola ekspansi tersebut diperkirakan mulai bergeser dari sekadar mengandalkan impor kendaraan utuh atau completely built-up (CBU) menuju perakitan dan produksi lokal.

Baca Juga: Implementasi Zero ODOL 2027 Terancam Gagal, Pemerintah Diminta Matangkan Persiapan

"Persaingan yang sangat ketat dan kapasitas produksi besar di China, ditambah hambatan perdagangan di sejumlah pasar Barat, membuat ASEAN tetap menjadi tujuan ekspansi yang menarik," kata Yannes kepada Kontan, Rabu (9/9/2026).

Menurut dia, Indonesia menjadi salah satu pasar menarik karena memiliki basis konsumen domestik yang besar serta sumber daya mineral dan industri baterai. Selain itu, regulasi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dan kewajiban produksi setelah fasilitas impor CBU turut mendorong produsen untuk meningkatkan lokalisasi.

Yannes mengatakan, arus masuk EV China kemungkinan masih akan kuat dalam beberapa tahun mendatang. Namun, persaingan tidak lagi hanya terjadi melalui penjualan kendaraan impor, melainkan juga melalui investasi dan pembangunan rantai pasok di dalam negeri.

"Fase berikutnya akan lebih banyak dipertandingkan melalui investasi dan lokalisasi daripada sekadar impor," ujarnya.

Menurut Yannes, peningkatan penjualan BEV dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa pasar Indonesia cukup responsif terhadap kehadiran kendaraan listrik. Ke depan, pertumbuhan pasar akan semakin ditentukan oleh ketersediaan model yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, terutama MPV keluarga dan SUV dengan harga kompetitif.

Selain harga, faktor pembiayaan, ketersediaan jaringan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), serta kualitas layanan purnajual juga akan menentukan penetrasi EV.

Di sisi harga, Yannes memperkirakan, persaingan akan semakin ketat terutama pada segmen entry level hingga menengah. Namun, dia menilai harga EV di Indonesia belum tentu turun sedalam perang harga yang terjadi di China.

Baca Juga: Permintaan PLTS Atap Melonjak, Pelaku Usaha Keluhkan Kuota dan Regulasi

"Menurut saya harga di Indonesia tidak akan turun sedalam perang harga yang terjadi di China karena masih ada faktor kurs, logistik, pajak, biaya investasi lokal, dan utilisasi pabrik yang harus diperhitungkan," jelasnya.

Meski demikian, ruang kompetisi yang menarik justru berpotensi muncul pada rentang harga Rp150 juta hingga Rp300 juta. Pada segmen tersebut, EV akan semakin berhadapan langsung dengan kendaraan bermesin bensin seperti LCGC, hatchback, hingga low MPV.

Persaingan juga tidak harus dilakukan melalui pemangkasan harga. Produsen dapat meningkatkan nilai produk dengan menawarkan kapasitas baterai lebih besar, fitur yang lebih lengkap, garansi lebih panjang, bunga pembiayaan lebih rendah, hingga fasilitas pengisian daya gratis.

Strategi tersebut dinilai dapat memperluas pasar EV ke kelompok masyarakat kelas menengah di perkotaan. Namun, untuk menjangkau pembeli mobil pertama secara lebih luas, terutama di luar kota besar, harga kompetitif saja belum cukup.

Kepastian cicilan, ketersediaan infrastruktur pengisian daya, jaringan 3S (sales, service, spare parts), garansi baterai, serta nilai jual kembali atau resale value akan menjadi pertimbangan penting konsumen.

Lebih lanjut, Yannes melihat meningkatnya persaingan EV China membawa peluang sekaligus tantangan bagi industri otomotif nasional.

Bagi konsumen, kompetisi dapat memperbanyak pilihan kendaraan, menekan harga, dan membuat teknologi yang sebelumnya hanya tersedia pada kendaraan premium menjadi lebih terjangkau. Sementara bagi industri nasional, masuknya investasi EV berpotensi membuka produksi, lapangan kerja, serta pengembangan rantai pemasok baru.

Baca Juga: Kebutuhan Listrik Terus Naik, Harus Ada Penguatan Sistem Kelistrikan

Namun, dia mengingatkan bahwa peningkatan investasi belum otomatis meningkatkan nilai tambah industri nasional apabila lokalisasi hanya berhenti pada aktivitas perakitan.

"Jika lokalisasi berhenti pada perakitan sementara komponen bernilai tinggi, engineering, dan teknologi tetap berasal dari luar, tidak terjadi peningkatan added value yang signifikan bagi pertumbuhan kemandirian industri di dalam negeri," katanya.

Persaingan tersebut juga akan meningkatkan tekanan terhadap pemain lama di segmen kendaraan entry level bermesin bensin dan hybrid. Menurut Yannes, produsen petahana perlu mempercepat pengembangan EV sekaligus mempertahankan keunggulan jaringan 3S dan resale value yang selama ini telah terbentuk.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu memanfaatkan momentum masuknya investasi EV China untuk memperdalam struktur industri otomotif nasional.

Yannes menyarankan, agar pemberian insentif dikaitkan tidak hanya dengan pencapaian angka TKDN, tetapi juga dengan investasi jangka panjang, penggunaan pemasok domestik, transfer kemampuan engineering, produksi komponen bernilai tinggi, serta pengembangan sumber daya manusia lokal.

Dengan strategi tersebut, kompetisi EV China tidak hanya berpotensi meningkatkan penjualan kendaraan listrik di Indonesia, tetapi juga dapat menjadi momentum untuk memperkuat rantai pasok dan meningkatkan nilai tambah industri otomotif nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×