kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.819.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.619   66,00   0,38%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Perlu ada tarif di titik keseimbangan untuk jaringan telekomunikasi MRT


Senin, 01 April 2019 / 19:11 WIB


Reporter: Harry Muthahhari | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Direktur ICT Institute Heru Sutadi menyoroti soal jaringan telekomunikasi di sepanjang jalur MRT Jakarta. Saat ini PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menjadi penyedia infrastruktur telekomunikasi tersebut.

Menurut Heru perlu ada titik keseimbangan terkait biaya sewa antara TBIG, operator, serta PT MRT Jakarta sendiri. "Sebab komunikasi itu kan untuk kebutuhan publik yang perlu disediakan," katanya kepada Kontan.co.id pada Senin (1/4).

Jika dinilai terlalu mahal, maka seluruh pihak perlu saling terbuka terkait komponen yang menentukan biaya sewa tersebut. Misalnya, bisa saja TBIG mematok tarif mahal karena harga sewa yang dipatok dari MRT Jakarta juga terlalu mahal.

Jika terlalu mahal dan kurang menarik operator, investasi penyedia infrastruktur telekomunikasi dalam hal ini TBIG di MRT Jakarta malah tidak menguntungkan.

Kata Heru, kalau mahal dan operator yang menyewa sedikit maka secara bisnis juga tidak akan menguntungkan penyedia infrastruktur telekomunikasi. "Idealnya ada tiga operator yang menyewa," terangnya.

Tapi Heru menekankan, yang paling penting TBIG sebagai penyedia infrastruktur juga harus tetap untung. Di sisi lain operator telekomunikasi juga tidak keberatan dengan kontrak sewa yang dipatok TBIG.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×