kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Pertamina diminta menjadi pionir pengembangan EBT di Indonesia


Rabu, 09 Desember 2020 / 08:00 WIB


Reporter: Dimas Andi | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina (Persero) didorong untuk berkontribusi besar dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia.

Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Bappenas Arifin Rudiyanto mengatakan, sebagai bagian dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Pertamina mengemban banyak tugas.

Dalam hal ini, Pertamina tak hanya mengejar keuntungan semata, melainkan juga harus berpartisipasi secara optimal dalam pembangunan negara.

Dia pun berharap Pertamina dapat menjadi pionir pengembangan EBT di Indonesia. Hal ini seiring jam terbang Pertamina yang cukup tinggi di bidang EBT, terutama terkait pemanfaatan panas bumi dan bioenergi.

“Tidak mungkin perusahaan private mau masuk ke bidang yang ketersediaannya belum pasti. Kalau Pertamina masuk dan berhasil, niscaya private juga bisa masuk,” ungkap dia saat acara Pertamina Energy Webinar, Selasa (8/12).

Baca Juga: Genjot EBT, Medco Power bidik kapasitas pembangkit hingga 5.000 MW dalam 5 tahun

Dia berpendapat, transisi energi hijau memerlukan strategi jangka pendek dan jangka panjang. Untuk jangka pendek, diperkirakan bahwa harga EBT masih akan lebih tinggi ketimbang harga energi berbasis fosil.

Namun, dalam jangka panjang, harga EBT akan menjadi lebih murah seiring meningkatnya teknologi dalam pengembangan EBT.

Untuk itu, fokus upaya yang coba pemerintah lakukan salah satunya adalah perbaikan kerangka regulasi untuk mendukung pengembangan EBT. Asal tahu saja, tidak lama lagi pemerintah akan menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) harga pembelian tenaga listrik energi terbarukan.

Selain itu, lanjut Arifin, pemerintah juga menyiapkan lembaga yang dapat menangani implementasi EBT di Indonesia. Upaya penyiapan sumber pendanaan yang tepat untuk EBT juga terus dilakukan supaya investasi di sektor tersebut tidak bergantung pada dana dari pemerintah.

“Sembari upaya-upaya tersebut jalan, peran Pertamina sangat diperlukan dalam menyiapkan SDM, teknologi, dan work plan (rencana kerja),” ujar dia.

Dihubungi terpisah, Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi menilai, Pertamina selaku BUMN energi layak mendapat tugas sebagai pionir pengembangan EBT di Indonesia.

Sebab, dengan kondisi risiko yang tinggi dan harga keekonomian yang belum kompetitif, tidak banyak investor yang mau berinvestasi di sektor EBT dalam negeri.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×