kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 17.746   -7,00   -0,04%
  • IDX 6.586   60,78   0,93%
  • KOMPAS100 863   11,63   1,37%
  • LQ45 654   9,78   1,52%
  • ISSI 229   0,81   0,35%
  • IDX30 366   5,89   1,63%
  • IDXHIDIV20 452   8,70   1,96%
  • IDX80 98   1,46   1,51%
  • IDXV30 125   1,49   1,20%
  • IDXQ30 117   2,09   1,82%

Pertamina Rampungkan Restrukturisasi Bisnis Hilir Tahap Kedua


Selasa, 01 September 2026 / 14:13 WIB
Pertamina Rampungkan Restrukturisasi Bisnis Hilir Tahap Kedua
ILUSTRASI. Pertamina Patra Niaga (DOK/Pertamina Patra Niaga)


Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina (Persero) melanjutkan restrukturisasi bisnis hilir dengan menggabungkan PT Pertamina Energy Terminal (PET) ke PT Pertamina Patra Niaga (PPN).

Penggabungan tersebut resmi berlaku efektif pada 1 September 2026 dan menjadi bagian dari implementasi Restrukturisasi Bisnis Hilir Tahap Kedua Pertamina Group.

Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra dan Direktur Utama Pertamina Energy Terminal Bayu Prostiyono menandatangani Akta Penggabungan pada Senin (31/8/2026), di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta.

Dengan aksi korporasi tersebut, PPN menjadi perusahaan penerima penggabungan (surviving entity), sementara PET bergabung ke dalam struktur PPN.

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengatakan, integrasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek legal, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun bisnis hilir yang lebih terintegrasi dan efisien.

Baca Juga: Pastikan Subsidi Energi Tepat Sasaran, Pertamina Patra Niaga Gandeng Dukcapil

"Apa yang kita tandatangani hari ini adalah komitmen bersama untuk membangun bisnis hilir yang tidak hanya terintegrasi secara struktural, tetapi juga andal, kompetitif, dan berkeadilan," ujar Simon dalam keterangan resmi, Selasa (1/9/2026).

Menurut Simon, setelah proses integrasi, Pertamina akan melanjutkan penataan proses dan organisasi di Subholding Hilir. Perusahaan juga akan mengoptimalkan rantai nilai, melakukan efisiensi biaya operasi, serta memperkuat sinergi antarentitas.

Ia menekankan, proses restrukturisasi tidak boleh mengganggu operasional bisnis hilir maupun pelayanan energi kepada masyarakat.

"Di tengah arus transformasi yang kompleks dan menuntut, operasional bisnis hilir tidak boleh surut, bahkan satu detik pun," tegasnya.

Simon mengatakan, langkah tersebut juga sejalan dengan amanat Danantara untuk mendorong transformasi BUMN menjadi lebih adaptif, lincah, dan kompetitif.

Karena itu, ia meminta jajaran Pertamina menjaga kejelasan peran di Subholding Hilir serta memastikan proses transisi berjalan lancar.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Terapkan Program Danantara Indonesia CX100 untuk Layanan Publik

Sebagai informasi, penggabungan PET ke PPN merupakan kelanjutan dari Restrukturisasi Bisnis Hilir Tahap Pertama yang berlaku efektif pada 1 Februari 2026.

Pada tahap pertama, Pertamina menggabungkan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) serta 10 special purpose vehicle (SPV) anak perusahaan PT Pertamina International Shipping (PIS) ke dalam PPN.

Selain itu, dilakukan pengalihan armada kapal captive milik PIS kepada PPN sebagai bagian dari penataan bisnis hilir Pertamina Group.

Pertamina menyebut, selama proses integrasi, operasional bisnis hilir tetap berjalan untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat.

Ke depan, perusahaan akan melanjutkan optimalisasi value chain, efisiensi biaya operasional, serta sinergi operasional.

Melalui transformasi bisnis hilir yang berkelanjutan, Pertamina mengaku berkomitmen memperkuat integrasi, efisiensi, dan daya saing bisnis hilir nasional, sekaligus mendukung terwujudnya ketahanan dan kemandirian energi bagi Indonesia.

Baca Juga: Pertamina Tata 31 Entitas Usaha Melalui Merger, Divestasi Non-Bisnis Inti & Likuidasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×