kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.870   -65,00   -0,36%
  • IDX 5.821   -75,34   -1,28%
  • KOMPAS100 752   -12,33   -1,61%
  • LQ45 573   -10,72   -1,84%
  • ISSI 201   -1,70   -0,84%
  • IDX30 325   -6,09   -1,84%
  • IDXHIDIV20 401   -6,69   -1,64%
  • IDX80 86   -1,38   -1,59%
  • IDXV30 108   -1,25   -1,14%
  • IDXQ30 105   -1,88   -1,76%

Perusahaan raksasa dunia masuk, di mana peluang e-commerce lokal?


Selasa, 30 Januari 2018 / 21:44 WIB
ILUSTRASI. Ilustrasi belanja online


Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Raksasa e-commerce dunia mulai masuki Indonesia. Berdasarkan riset dari iPrice, indikasi ini terlihat dari masuknya Alibaba Group melalui pendanaan di beberapa e-commerce Indonesia, JD.com melalui JD.ID, serta Amazon yang sudah eksis di Singapura dan Australia.

Senior Analyst East Ventures Elisa Suteja yakin, investor asing akan terus masuk ke e-commerce Indonesia karena masih banyak pelaku pasar digital yang masih berada pada fase tengah berkembang.

Senior Content Marketer iPrice Group Andrew Prasatya menambahkan, bila Amazon masuk ke Indonesia, akan mendorong raksasa e-commerce Indonesia akan lebih bersaing lebih cepat.

“Tapi pasar Asia Tenggara dan Amerika Serikat sangat berbeda. Dari pola pikir hingga sistem pembayaran (payment). Amazon nantinya ke Indonesia bisa lewat dua cara, yakni sendiri atau gandeng e-commerce lokal yang sudah ada,” kata Andrew pada Selasa (30/1) di Jakarta.

Elisa menambahkan peluang e-commerce masih terbuka lebar seperti di AS ketika eBay dan Amazon menguasai pasar. Meski demikian, Elisa membeberkan pelaku startup masih banyak yang bisa tumbuh. Begitupun di Indonesia, Elisa bilang bagi mereka yang serius bisa dapat peluang.

Andrew memberikan pesan agar pelaku e-commerce mendahulukan pemenuhan kebutuhan konsumen. Artinya e-commerce tidak boleh hanya berpatok pada penjualan semata.

“Konten marketing harus didik orang bagaimana belanja online apalagi banyak kecurigaan di belanja online. Pola pikirnya masih penjualan, konten itu harusnya mengedukasi dan nyaman ketika datang ke e-commerce,” tutup Andrew.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×