kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.800.000   35.000   1,27%
  • USD/IDR 17.668   -8,00   -0,05%
  • IDX 6.095   -223,79   -3,54%
  • KOMPAS100 804   -27,99   -3,36%
  • LQ45 616   -14,77   -2,34%
  • ISSI 214   -11,10   -4,93%
  • IDX30 352   -8,07   -2,24%
  • IDXHIDIV20 439   -9,25   -2,06%
  • IDX80 93   -3,09   -3,22%
  • IDXV30 121   -2,93   -2,36%
  • IDXQ30 115   -2,35   -2,00%

Petani desak pemerintah cari cara serap karet


Kamis, 03 Desember 2015 / 11:27 WIB


Reporter: Adisti Dini Indreswari | Editor: Havid Vebri

JAKARTA. Melihat harga karet yang jatuh semakin dalam, Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) mendesak pemerintah segera mengambil langkah utnuk menyelamatkan harga karet. KTNA mengusulkan pemerintah menunjuk badan usaha milik negara (BUMN) untuk menyerap karet dari petani.

Menurut Ketua Umum Kelompok KTNA Nasional Winarno Tohir, BUMN yang menyerap karet tidak harus Perum Bulog, tetapi bisa juga PT Pertani atau PT Bhanda Ghara Reksa (BGR). "Saya yakin kapasitas gudang mereka masih cukup," ujarnya di Jakarta, Rabu (2/12).

KTNA juga mengusulkan harga pokok pembelian (HPP) karet sebesar Rp 6.000 per kilogram (kg). Menurut Winarno, usulan HPP tersebut lebih tinggi dari harga produksi.

Selain itu, KTNA juga mendesak pemerintah untuk mewajibkan produsen otomotif yang beroperasi di Indonesia menyerap karet lokal. Tujuannya supaya permintaan karet dari dalam negeri meningkat, sehingga harga karet pun akan terangkat.

"Solusi untuk menaikkan harga kelapa sawit sudah ketemu, yaitu dengan mewajibkan penggunaan biodiesel. Masa untuk karet tidak bisa?" ujar Winarno.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×