Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) berupaya melanjutkan tren pertumbuhan kinerja sembari meneruskan agenda ekspansi.
PGEO sedang memacu penambahan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) sambil menggali potensi sumber pendapatan baru.
Selama paruh pertama 2026, pendapatan PGEO tumbuh 14,73% secara tahunan atau year on year (yoy) dari US$ 204,85 juta menjadi US$ 235,02 juta.
Sedangkan laba bersih PGEO meningkat 15,48% (yoy) dari US$ 68,95 juta menjadi US$ 79,62 juta pada semester I-2026.
Baca Juga: Pertamina Geothermal (PGEO) Garap 9 Proyek, Ekspansi PLTP Hingga Green Data Center
Performa keuangan PGEO tumbuh sejalan dengan peningkatan kinerja operasional. Pada semester I-2026, produksi listrik PGEO mencapai 2.745 Gigawatt hour (GWh), atau meningkat 13,62% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kontribusi di hampir seluruh wilayah operasi PGEO. Mencakup peningkatan produksi di PLTP Kamojang, Ulubelu, Lahendong, Karaha, serta kontribusi penuh PLTP Lumut Balai Unit 2 yang mulai beroperasi komersial pada akhir Juni 2025.
Pada semester I-2026, PGEO mencapai capacity factor sebesar 90,42%, atau di atas rata-rata perusahaan panas bumi global yang umumnya berada pada kisaran 75% hingga 80%.
Sementara itu, availability factor PGEO tercatat mencapai 99,71%, dengan unplanned outage rate yang hanya sebesar 0,11%.
Direktur Keuangan Pertamina Geothermal Energy, Fransetya Hasudungan Hutabarat, mengungkapkan bahwa pertumbuhan kinerja keuangan mencerminkan kemampuan PGEO dalam mengoptimalkan operasional PLTP.
Baca Juga: Pertamina Geothermal (PGEO) dan PLN IP Sepakati Tarif Listrik PLTP Lahendong 15 MW
Fransetya mengklaim pertumbuhan PGEO memiliki kualitas yang baik lantaran sebagian besar peningkatan laba berasal dari kinerja operasional, sementara faktor non-operasional hanya memberikan dukungan tambahan.
Pada paruh kedua tahun ini, PGEO berupaya menggandakan capaian yang didapat pada semester pertama. Guna mencapai target tersebut, PGEO bakal konsisten menjaga keandalan kinerja operasional (operational excellence) di wilayah kerja panas bumi yang dikelolanya.
Fransetya optimistis performa tersebut akan berlanjut pada semester II-2026, sehingga PGEO bisa menjaga level pertumbuhan dobel digit dibandingkan tahun lalu.
"Kami lihat secara year-on-year saja, sampai akhir tahun bisa dobel digit growth," kata Fransetya di agenda Media Briefing pada Selasa (4/8/2026).
Tak hanya menjaga tren pertumbuhan kinerja operasional dan keuangan, PGEO juga sedang menggarap sejumlah proyek ekspansi.
Baca Juga: Pertamina Geothermal (PGEO) Pastikan Listrik Aman Saat Idulfitri, Andalkan Panas Bumi
Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy, Ahmad Yani mengungkapkan bahwa PGEO telah memiliki peta jalan yang matang untuk menggarap portofolio proyek pengembangan, guna mengoptimalkan potensi panas bumi yang mencapai lebih dari 3 GW.
Saat ini, PGEO memiliki kapasitas terpasang PLTP sebesar 727 Megawatt (MW). PGEO akan menambah kapasitas PLTP secara bertahap, hingga mencapai 1 Gigawatt (GW) pada tahun 2028, dan menembus level 1,8 GW pada tahun 2033.
Ahmad mengatakan bahwa PGEO akan terlebih dulu fokus menggarap ekspansi secara organik pada aset dan portofolio proyek yang sudah ada.
Namun, PGEO tidak menutup kemungkinan untuk melirik potensi ekspansi secara anorganik melalui kerja sama atau akuisisi di dalam maupun luar negeri.
"Kami terbuka melihat peluang, baik organik maupun anorganik. Kami terbuka untuk potensi itu, jika memang ada nilai tambah yang bisa dihasilkan. Tapi sekarang kami fokus yang organik dulu," kata Ahmad.
PGEO memiliki sejumlah proyek ekspansi untuk menambah kapasitas PLTP. Antara lain PLTP Hululais Unit 1 dan 2 dengan kapasitas 110 MW, PLTP Lumut Balai Unit 3 (55 MW), PLTP Kotamobagu Unit 1 & 2 (64 MW), Lahendong Unit 7-8 & Binary Unit (50 MW), Proyek Gunung Tiga / Ulubelu Extension (55 MW), serta PLTP Lumut Balai Unit 4 (55 MW).
Baca Juga: Pertamina Geothermal (PGEO) Mulai Tahap Lanjutan PLTP Lumut Balai Unit 3 55 MW
Selain ekspansi di proyek pembangkit listrik panas bumi, PGEO sedang menggali potensi sumber pendapatan baru melalui Pilot Plant Green Hydrogen Ulubelu, yang ditargetkan akan beroperasi secara komersial atau Commercial Operation Date (COD) pada November 2026. Di samping itu, PGEO sedang menjajaki ekosistem Green Data Center, untuk memasok listrik berbasis energi bersih dari panas bumi.
"Pilot project green hydrogen InsyaAllah di November sudah COD. Green data center kami support dari sisi energinya karena geothermal adalah baseload green energy. Pembicaraan kerja sama terbuka dengan berbagai pihak. Pada intinya bagaimana membangun ekosistemnya," ungkap Ahmad.
Capex dan Strategi Pendanaan
Guna mendukung berbagai agenda ekspansi tersebut, Fransetya mengungkapkan bahwa pada tahun ini PGEO menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar US$ 209 juta - US$ 210 juta.
Pada semester I-2026, PGEO telah merealisasikan capex sebanyak US$ 23,82 juta, meningkat 8,82% dibandingkan realisasi capex pada periode yang sama tahun lalu.
Fransetya merinci, realisasi capex PGEO pada paruh pertama 2026 digunakan untuk development expenditure sebesar US$ 13,66 juta atau meningkat 31,47% dibandingkan realisasi pada semester I-2025. Selain itu, PGEO menggunakan US$ 10,16 juta sebagai maintenance expenditure.
Baca Juga: Pertamina Geothermal (PGEO) Lanjutkan Proyek Green Data Center Tahun Ini
Merujuk pemberitaan KONTAN sebelumnya, dalam perencanaan capex tahun ini, PGEO mengalokasikan dana sekitar US$ 129,7 juta untuk pengembangan kapasitas organik.
Sementara sekitar US$ 50 juta diarahkan untuk pemeliharaan dan keandalan aset. Sedangkan sisanya digunakan untuk kegiatan eksplorasi, infrastruktur pendukung dan kebutuhan investasi lainnya.
Di sisi lain, PGEO menerapkan strategi pendanaan yang terdiversifikasi dan disesuaikan dengan karakteristik setiap proyek. Sumber pendanaan mencakup kas internal, pasar modal berkelanjutan, pinjaman konsesional dari lembaga multilateral dan bilateral, fasilitas perbankan, serta kerja sama dengan mitra strategis.
Adapun, tiga proyek PGEO sudah tercantum dalam Green Book Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Ketiga proyek tersebut memiliki potensi dukungan pembiayaan hingga US$ 477,87 juta.
Baca Juga: Pertamina Geothermal (PGEO) Mulai Tahap Lanjutan PLTP Lumut Balai Unit 3 55 MW
Ketiga proyek tersebut adalah PLTP Lumut Balai Unit 3 dengan potensi dukungan pembiayaan sebesar US$ 158,86 juta, PLTP Lumut Balai Unit 4 (US$ 148,97 juta) dan PLTP Lahendong Unit 7–8 (US$ 170,04 juta). Lender untuk PLTP Lumut Balai 3 dan 4 adalah JICA, sedangkan World Bank menjadi lender untuk PLTP Lahendong 7-8.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
