Reporter: Diki Mardiansyah, Lailatul Anisah | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Aktivitas manufaktur Indonesia semakin ekspansif pada Oktober 2026.
Namun, pengusaha mengingatkan pemerintah agar menjaga daya saing biaya produksi supaya momentum pertumbuhan industri tidak terhenti dan bisa berlanjut hingga 2027.
Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia versi S&P Global naik menjadi 54,0 pada Oktober 2026, dari 52,4 pada September 2026. Capaian ini menjadi yang tertinggi sejak Maret 2024.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Erwin Aksa mengatakan, kenaikan PMI menunjukkan aktivitas manufaktur semakin kuat, terutama didorong peningkatan pesanan baru dari pasar domestik maupun ekspor.
Baca Juga: PMI Manufaktur Indonesia Naik ke Level 52,4, ASEAN Malah Melambat
Menurut Erwin, meningkatnya permintaan dari kedua pasar tersebut membuka peluang bagi industri nasional untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan utilisasi kapasitas produksi.
"Bagi dunia usaha, yang paling penting bukan hanya kenaikan indeks PMI, tetapi sumber pertumbuhannya," ujar Erwin kepada KONTAN, Senin (2/11).
Meski demikian, Erwin mengingatkan bahwa kenaikan PMI dalam beberapa bulan terakhir belum cukup untuk membuktikan perbaikan daya saing industri secara fundamental.
Keberlanjutan pertumbuhan manufaktur masih bergantung pada konsistensi pesanan baru, peningkatan produktivitas, pengendalian biaya produksi, serta terjaganya permintaan hingga 2027.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani juga menilai kenaikan PMI sebagai sinyal positif bagi industri nasional.
Baca Juga: PMI Manufaktur Indonesia Tembus 54,0, Investasi Industri Masih Tertahan
Penguatan tersebut sejalan dengan peningkatan Indeks Kepercayaan Industri (IKI), yang menunjukkan adanya perbaikan permintaan dan aktivitas produksi.
Namun, Shinta mengingatkan bahwa pemulihan manufaktur belum berlangsung merata di seluruh subsektor industri.
Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha Bank Indonesia pada kuartal III-2026 menunjukkan kinerja industri pengolahan membaik.
Hal ini tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 1,53%, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 1,34%.
Sejumlah subsektor yang menopang perbaikan tersebut antara lain industri makanan dan minuman dengan SBT 0,91%, barang galian bukan logam sebesar 0,16%, serta logam dasar sebesar 0,12%.
"Artinya, perbaikan aktivitas manufaktur sudah mulai dirasakan, tetapi intensitas pemulihannya masih berbeda-beda antarsektor," kata Shinta.
Baca Juga: PMI Manufaktur Indonesia di September Kembali Ekspansif, Terdorong Permintaan Ekspor
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, PMI Manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 merupakan capaian tertinggi sejak Maret 2024.
Sementara itu, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menilai peningkatan PMI menunjukkan aktivitas industri nasional terus bergerak ke arah yang lebih baik.
Posisi indeks yang semakin jauh di atas ambang ekspansi 50 poin juga mencerminkan penguatan aktivitas manufaktur.
"PMI manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 kembali meningkat dan berada semakin jauh di atas ambang batas ekspansi 50 poin," ujar Sarmuji.
Baca Juga: Kadin DKI: PMI Manufaktur Kembali Ekspansif, Namun Risiko Global Masih Membayangi
Menurut Sarmuji, momentum tersebut perlu dijaga agar penguatan manufaktur memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional. Terlebih, kenaikan PMI kali ini ditopang oleh pertumbuhan pesanan baru dan permintaan ekspor.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













