Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Noverius Laoli
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menilai pelemahan PMI manufaktur perlu diwaspadai karena berpotensi menjadi titik balik siklus industri nasional.
Menurut dia, kontraksi PMI April 2026 merupakan yang pertama dalam sembilan bulan terakhir sekaligus level terendah sejak pertengahan 2025.
“Dalam dua bulan, sektor manufaktur bergerak dari fase ekspansi kuat ke kontraksi. Ini perlu dilihat hati-hati agar jangan sampai menjadi turning point dalam siklus industri,” ujar Shinta kepada Kontan, Minggu (10/5/2026).
Shinta mengatakan, ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang menekan industri manufaktur melalui pelemahan permintaan ekspor, kenaikan biaya produksi, hingga meningkatnya ketidakpastian usaha.
Tekanan biaya produksi meningkat akibat kenaikan harga energi, bahan baku, dan gangguan rantai pasok global. Kondisi tersebut membuat pelaku industri lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi, produksi, hingga penyerapan tenaga kerja.
“Ketika memasuki kuartal II dan seterusnya, di mana tidak ada seasonal buffer, risiko pelemahan menjadi lebih nyata dan berpotensi lebih persisten,” katanya.
Baca Juga: CORE: PHK Krakatau Osaka Steel Cerminkan Tekanan Struktural Industri Manufaktur
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta Diana Dewi juga menilai penurunan PMI manufaktur menjadi sinyal kewaspadaan bagi sektor industri.
Menurut dia, gangguan pengiriman bahan baku dan peningkatan biaya produksi berpotensi menekan margin keuntungan industri.
Selain itu, kontraksi output menunjukkan adanya penurunan permintaan domestik maupun luar negeri yang membuat sebagian perusahaan mulai menahan ekspansi.
“Kemudian penguatan substitusi impor juga penting untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku luar negeri dan meningkatkan kemandirian industri,” ujar Diana kepada Kontan, Minggu (10/5/2026).
Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai tekanan terhadap sektor manufaktur mulai menunjukkan gejala yang lebih struktural, bukan sekadar perlambatan siklus jangka pendek.
Baca Juga: Beka Wire Operasikan Pabrik Kawat Baja 36.000 Ton, Sasar Pasar Otomotif Hingga Energi
Menurut dia, problem utama saat ini bukan hilangnya permintaan secara total, melainkan industri yang makin sulit menjalankan produksi secara normal akibat kenaikan biaya input dan terganggunya pasokan bahan baku.
“Industri sedang berada dalam posisi terjepit. Di satu sisi biaya naik, di sisi lain permintaan domestik belum cukup kuat untuk menyerap kenaikan harga secara penuh,” ujar Yusuf.
Ia menilai PMI 49,1 memang belum menjadi alarm krisis, tetapi sudah menjadi early warning serius atas lemahnya struktur industri manufaktur nasional, terutama tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor dan lemahnya industri hulu domestik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- harga komoditas
- Kementerian Perindustrian
- pasar ekspor
- Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)
- biaya logistik
- Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI)
- local currency transaction (lct)
- Indeks Kepercayaan Industri (IKI)
- Ekonomi Indonesia
- PMI Manufaktur Indonesia
- Rantai Pasok Global
- Geopolitik Global
- Daya Saing Industri
- PHK industri
- Kebijakan Industri
- Substitusi Impor
- Industri Manufaktur Kontraksi
- Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN)
- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta
- Center of Reform on Economics Indonesia (CORE)
- Struktur Industri Nasional













