kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   104,00   0,60%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

PMI Manufaktur Kembali Kontraksi, Industri Dibayangi Tekanan Global


Minggu, 10 Mei 2026 / 17:54 WIB
PMI Manufaktur Kembali Kontraksi, Industri Dibayangi Tekanan Global
ILUSTRASI. Pameran Produk Manufaktur China (KONTAN/Carolus Agus Waluyo). Angka PMI manufaktur Indonesia anjlok ke 49,1 di April 2026. Konflik geopolitik dan biaya logistik memicu kontraksi. Siap-siap dampak terburuknya


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Noverius Laoli

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menilai pelemahan PMI manufaktur perlu diwaspadai karena berpotensi menjadi titik balik siklus industri nasional.

Menurut dia, kontraksi PMI April 2026 merupakan yang pertama dalam sembilan bulan terakhir sekaligus level terendah sejak pertengahan 2025.

“Dalam dua bulan, sektor manufaktur bergerak dari fase ekspansi kuat ke kontraksi. Ini perlu dilihat hati-hati agar jangan sampai menjadi turning point dalam siklus industri,” ujar Shinta kepada Kontan, Minggu (10/5/2026).

Shinta mengatakan, ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang menekan industri manufaktur melalui pelemahan permintaan ekspor, kenaikan biaya produksi, hingga meningkatnya ketidakpastian usaha.

Tekanan biaya produksi meningkat akibat kenaikan harga energi, bahan baku, dan gangguan rantai pasok global. Kondisi tersebut membuat pelaku industri lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi, produksi, hingga penyerapan tenaga kerja.

“Ketika memasuki kuartal II dan seterusnya, di mana tidak ada seasonal buffer, risiko pelemahan menjadi lebih nyata dan berpotensi lebih persisten,” katanya.

Baca Juga: CORE: PHK Krakatau Osaka Steel Cerminkan Tekanan Struktural Industri Manufaktur

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta Diana Dewi juga menilai penurunan PMI manufaktur menjadi sinyal kewaspadaan bagi sektor industri.

Menurut dia, gangguan pengiriman bahan baku dan peningkatan biaya produksi berpotensi menekan margin keuntungan industri.

Selain itu, kontraksi output menunjukkan adanya penurunan permintaan domestik maupun luar negeri yang membuat sebagian perusahaan mulai menahan ekspansi.

“Kemudian penguatan substitusi impor juga penting untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku luar negeri dan meningkatkan kemandirian industri,” ujar Diana kepada Kontan, Minggu (10/5/2026).

Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai tekanan terhadap sektor manufaktur mulai menunjukkan gejala yang lebih struktural, bukan sekadar perlambatan siklus jangka pendek.

Baca Juga: Beka Wire Operasikan Pabrik Kawat Baja 36.000 Ton, Sasar Pasar Otomotif Hingga Energi

Menurut dia, problem utama saat ini bukan hilangnya permintaan secara total, melainkan industri yang makin sulit menjalankan produksi secara normal akibat kenaikan biaya input dan terganggunya pasokan bahan baku.

“Industri sedang berada dalam posisi terjepit. Di satu sisi biaya naik, di sisi lain permintaan domestik belum cukup kuat untuk menyerap kenaikan harga secara penuh,” ujar Yusuf.

Ia menilai PMI 49,1 memang belum menjadi alarm krisis, tetapi sudah menjadi early warning serius atas lemahnya struktur industri manufaktur nasional, terutama tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor dan lemahnya industri hulu domestik. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×