Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aktivitas manufaktur Indonesia kembali memasuki zona ekspansi pada Juli 2026. Salah satu faktor yang disebut pemerintah menopang kenaikan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur adalah kembali optimalnya implementasi kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) bagi industri.
Meski demikian, pelaku industri menilai implementasi HGBT di lapangan masih belum sepenuhnya berjalan optimal.
Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan, perusahaan baja masih menghadapi keterbatasan volume pasokan gas murah sehingga harus membeli tambahan gas di luar skema HGBT dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Baca Juga: Perkuat Pasar di Jawa Barat, Semen Indonesia (SMGR) Hadirkan Lagi Semen Kujang
Harry menjelaskan, implementasi HGBT belum berjalan normal dan merata, terutama dari sisi pemenuhan volume. Ketika realisasi pasokan HGBT belum mencukupi kebutuhan operasional, perusahaan harus memenuhi kekurangannya melalui pasokan gas non-HGBT.
"Bagi industri baja, persoalannya saat ini bukan semata-mata apakah HGBT sudah tersedia pada harga US$ 7 per MMBtu, tetapi juga seberapa besar kebutuhan gas industri yang benar-benar dapat dipenuhi melalui skema tersebut," ujar Harry kepada Kontan, Kamis (6/8/2026).
Menurut dia, harga gas non-HGBT dari sisi hulu masih berada di kisaran US$ 20 per MMBtu dan belum menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan Juni 2026. Kondisi tersebut membuat harga gas efektif (blended price) yang ditanggung industri tetap tinggi karena sebagian kebutuhan produksi masih dipenuhi menggunakan gas non-HGBT.
Harry menambahkan, apabila pemerintah menginginkan harga gas non-HGBT berada di kisaran US$ 13 per MMBtu, penyelesaiannya sangat bergantung pada pembenahan struktur harga dan pasokan dari sisi hulu. Tanpa perbaikan tersebut, manfaat HGBT dalam menekan biaya produksi belum dapat dirasakan secara optimal.
Meski demikian, Harry mengakui implementasi HGBT yang membaik telah memberikan dampak positif bagi industri karena membantu menekan biaya energi dan meningkatkan kepastian pasokan gas. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung peningkatan aktivitas produksi.
Baca Juga: Multicrane Gandeng Ammann&Sumitomo Dorong Pemakaian Aspal Buton pada Konstruksi Jalan
Namun, ia menegaskan peningkatan utilisasi industri baja tidak hanya ditentukan oleh harga energi. Menurutnya, permintaan domestik, realisasi proyek infrastruktur dan konstruksi, kondisi pasar ekspor, tingkat impor, serta efektivitas kebijakan perdagangan juga menjadi faktor penting yang menentukan kinerja industri.
Karena itu, Harry menilai implementasi HGBT merupakan prasyarat penting bagi pemulihan industri, tetapi belum menjadi faktor yang cukup untuk mendorong peningkatan utilisasi kapasitas secara signifikan. Dampaknya akan lebih besar apabila implementasi HGBT berjalan konsisten serta didukung penguatan permintaan domestik dan kebijakan perdagangan yang menciptakan iklim usaha yang sehat.
Ke depan, Harry berharap pemerintah menjaga konsistensi implementasi HGBT, tidak hanya dari sisi harga, tetapi juga volume dan kontinuitas pasokan. Dengan demikian, manfaat kebijakan tersebut dapat benar-benar tercermin dalam penurunan biaya produksi dan peningkatan daya saing industri baja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
