kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Populasi sapi NTT tumbuh rata-rata 5,8% per tahun


Kamis, 21 April 2016 / 18:57 WIB
Populasi sapi NTT tumbuh rata-rata 5,8% per tahun


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kemtan) mencatat, rata-rata populasi sapi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami peningkatan 5,8% dalam lima tahun terakhir. 

Pertumbuhan populasi sapi tersebut didominasi oleh jenis sapi bali dan sapi ongole yang mencapai 5,8% dari total populasi sapi nasional.

Direktur Jenderal PKH Kemtan Muladno, mengatakan, kementeriannya terus menjaga pertumbuhan populasi sapi di NTT. Kemtan, kata Muladno, ingin menjadikan NTT memiliki slogan "Nusa Ternak Terbaik". 

Menurutnya, NTT merupakan wilayah kepulauan penyedia ternak-ternak kualitas terbaik di Indonesia. "Ini ditunjukkan dengan ketersediaan sapi dengan bobot yang diharapkan para pelaku usaha," ujar Muladno dalam keterangan tertulis, Kamis (21/4).

Muladno menjelaskan, sebagai upaya dalam rangka meningkatkan populasi sapi potong untuk mewujudkan kedaulatan pangan asal ternak dan kesejahteraan peternak, maka Pemerintah telah mengembangkan model pengembangan peternakan rakyat melalui pendekatan Sentra Peternakan Rakyat (SPR).

SPR merupakan suatu model pemberdayaan masyarakat dalam hal ini para peternak, dalam mengelola usaha peternakannya yang berorientasi bisnis kolektif sehingga dapat berperan sebagai media pembangunan peternakan secara terintegrasi bagi pembangunan peternakan.

Sehingga, kehadiran SPR diharapkan akan melahirkan peternak-peternak yang mampu memproduksi dan mensuplai daging ke daerah lain tanpa harus impor.

Ia bilang, pada tahun 2016 telah ditetapkan 50 SPR sebagai pilot project dan diharapkan pada tahun berikutnya SPR akan terus bertambah keberadaannya. 

Namun demikian, di beberapa daerah juga bermunculan SPR-SPR mandiri yang dibentuk oleh peternak-peternak yang berjamaah dalam menjalankan aktifitas beternaknya dengan pola pendekatan SPR seperti para peternak yang hadir pada acara panen sapi dari SPR Am’toas Kecamatan Fatuleu Tengah dan SPR Oemat’ana Kecamatan Amabioefelo, serta SPR Amvini Kecamatan Amavasi Timur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×