kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.677.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.819   -23,00   -0,13%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Potensi Biogas dari Limbah Sawit RI Capai 3,6 Miliar m³ per Tahun


Senin, 17 Agustus 2026 / 13:18 WIB
Potensi Biogas dari Limbah Sawit RI Capai 3,6 Miliar m³ per Tahun
ILUSTRASI. Panen kelapa sawit (KONTAN/BAIHAKI)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan biogas berbasis limbah kelapa sawit. Dengan ketersediaan palm oil mill effluent (POME) yang melimpah, limbah cair dari pabrik kelapa sawit tersebut berpotensi menjadi sumber energi terbarukan sekaligus memberikan nilai tambah bagi industri sawit.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Dr Erma Yulihastin mengatakan, POME memiliki kandungan bahan organik tinggi dan tersedia secara berkelanjutan selama pabrik kelapa sawit beroperasi.

"POME ini mengandung bahan organik tinggi dan tersedia secara terus-menerus selama pabrik kelapa sawit beroperasi," katanya di Jakarta, Senin (17/8/2026).

Baca Juga: APPBI: Bonus Demografi Bisa Jadi Bumerang Jika Daya Beli Masyarakat Tak Diperkuat

Potensi tersebut ditopang oleh luas perkebunan kelapa sawit nasional yang mencapai sekitar 16,8 juta hektare dengan produksi tandan buah segar (TBS) sekitar 250 juta ton per tahun.

Erma menjelaskan, setiap satu ton TBS dapat menghasilkan sekitar 0,5 ton POME. Dengan demikian, Indonesia berpotensi menghasilkan sekitar 125 juta ton POME setiap tahun yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi biogas.

Menurut dia, pemanfaatan POME menjadi biogas dapat memberikan manfaat dari sisi lingkungan, ekonomi hingga sosial. Dari sisi lingkungan, pengolahan POME menjadi biogas dapat mengurangi pelepasan gas metana dari kolam limbah terbuka.

Pengolahan tersebut juga dapat menurunkan kandungan bahan organik dalam limbah, mengurangi bau, serta menekan risiko pencemaran sumber air dan tanah.

"Pemanfaatan POME menjadi biogas dapat mengendalikan emisi gas rumah kaca. Berdasarkan penelitian, fasilitas biogas mampu mengurangi emisi sekitar 1.131 ton CO2 ekuivalen per bulan," paparnya.

Selain mengurangi emisi, biogas dari POME dapat digunakan sebagai sumber energi pengganti bahan bakar fosil. Energi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan listrik maupun panas di sekitar kawasan industri sawit.

Dari sisi ekonomi, pengembangan fasilitas biogas juga berpotensi membuka lapangan kerja mulai dari pembangunan, pengoperasian hingga pemeliharaan fasilitas.

Biogas juga dapat digunakan untuk menekan biaya energi yang dikeluarkan oleh pabrik kelapa sawit. Setelah melalui proses pemurnian, biogas bahkan dapat dikembangkan menjadi bio-compressed natural gas (bio-CNG) untuk bahan bakar kendaraan maupun kebutuhan industri lokal.

"Jadi, manfaat ekonominya bisa dirasakan perusahaan, tenaga kerja lokal, dan masyarakat sekitar selama pengelolaan melibatkan daerah secara langsung," tegas Erma.

Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung menambahkan, potensi energi dari POME di Indonesia cukup besar.

Menurut perhitungannya, setiap satu ton POME dapat menghasilkan sekitar 28,8 meter kubik (m³) biogas melalui penerapan teknologi methane capture. Dengan potensi POME sekitar 125 juta ton per tahun, Indonesia berpotensi menghasilkan sekitar 3,6 miliar m³ biogas setiap tahun.

"Biogas ini dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, baik untuk memenuhi kebutuhan listrik pabrik, perumahan karyawan, kantor, maupun masyarakat di sekitar pabrik kelapa sawit. Selain itu, biogas dapat dijual untuk memenuhi kebutuhan konsumsi gas rumah tangga," ujar Tungkot.

Namun, pemanfaatan potensi tersebut masih menghadapi tantangan dari sisi tingkat pengembangan. Tungkot menyebut pemanfaatan POME untuk biogas saat ini baru mencapai sekitar 15% dari total potensi yang tersedia.

Karena itu, ia mendorong adanya kebijakan nasional untuk mempercepat pengembangan biogas berbasis POME.

Tungkot mengusulkan tiga kebijakan utama, yakni penerapan perdagangan karbon berbasis sawit khususnya POME, kewajiban methane capture di setiap pabrik kelapa sawit dengan dukungan insentif investasi, serta kewajiban pencampuran biogas dengan gas fosil untuk kebutuhan energi.

"Jika ketiga kebijakan tersebut dapat dilakukan di Indonesia, saya yakin semua PKS akan membangun methane capture dan hasilnya menambah ketersediaan gas, meningkatkan ketersediaan biolistrik, emisi akan berkurang, serta menambah pendapatan baru bagi pabrik kelapa sawit," pungkasnya.

Sementara itu, pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus mendorong pengembangan bioenergi berbasis sawit sebagai salah satu upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil impor, memperbaiki neraca perdagangan energi, serta menekan emisi gas rumah kaca.

Dukungan terhadap inovasi teknologi biogas POME salah satunya dilakukan melalui program Grant Riset Sawit (GRS). Pendanaan tersebut mencakup tahapan pengembangan mulai dari desain dan instalasi, produksi, hingga pengujian pada kendaraan.

Dengan potensi bahan baku yang besar dan pengembangan teknologi methane capture, limbah cair sawit berpeluang tidak lagi hanya dipandang sebagai limbah industri, tetapi menjadi sumber energi sekaligus sumber pendapatan tambahan bagi industri kelapa sawit.

Baca Juga: Ekonomi RI Ditargetkan 6% pada 2027, Industri Plastik Cari Mesin Pertumbuhan Baru

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×