kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,31   -15,20   -1.62%
  • EMAS1.345.000 0,75%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

PP Presisi (PPRE) Targetkan Kontrak Baru Sebesar Rp 8 Triliun di Tahun 2024


Jumat, 22 Desember 2023 / 06:10 WIB
PP Presisi (PPRE) Targetkan Kontrak Baru Sebesar Rp 8 Triliun di Tahun 2024
ILUSTRASI. PP Presisi (PPRE) menargetkan kontrak baru sebesar Rp 8 triliun di tahun 2024


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten jasa kontribusi sipil dan tambang, PT PP Presisi Tbk (PPRE) membidik perolehan kontrak baru sebesar Rp 8 triliun pada tahun depan dengan berfokus menggeber bisnis pertambangan yang dinilai akan berkontribusi signifikan terhadap kinerja PPRE.

Direktur Utama PPRE I Gede Upeksa Negara mengatakan, tahun depan PPRE menargetkan perolehan kontrak baru Rp 8,26  triliun. Secara detail, kurang lebih Rp 5,2 triliun atau 62,5% dari sektor pertambangan.

"Sebagian besar target kontrak kami dari sektor pertambangan," kata I Gede dalam paparan publik secara virtual, Rabu (20/12).

Selain itu, PPRE menargetkan penjualan sebesar Rp 5,9 triliun yang terdiri dari Rp 4,3 triliun dari proyek carry over pada tahun 2023 dan Rp 1,5 triliun dari proyek baru pada tahun depan.

Gede menjelaskan, prospek bisnis pada tahun depan masih akan terjaga dengan baik. Pasalnya, saat ini PPRE tengah fokus menggenjot bisnis pertambangan. Menurut dia, jika masih berada di sektor infrastruktur yang mengandalkan APBN, maka akan dipengaruhi dengan tahun politik.

Baca Juga: PP Presisi (PPRE) Anggarkan Capex Rp 920 Miliar di Tahun Depan

"Dengan beralih ke sektor pertambangan, otomatis tidak berimbas terhadap tahun politik pada tahun depan," ujar Gede.

"Saya optimistis tahun depan [dengan masuk ke bisnis pertambangan] bisnis masih bisa terjaga dengan baik," tambahnya.

Lebih lanjut Gede memandang kondisi saat ini banyak dipengaruhi oleh isu global seperti Perang Rusia, Israel - Palestina, dan di dalam negeri juga akan menghadapi tahun politik.

Oleh sebab itu, PPRE fokus menggenjot bisnis pertambangan menjadi salah satu strategi PPRE pada tahun depan.

Gede menambahkan, pertumbuhan konsumsi nikel dari tahun ke tahun diproyeksikan peningkatannya akan cukup besar, sehingga membuat tren pembangunan smelter yang ada di Indonesia sangat agresif.

 

"Indonesia juga memiliki kandungan nikel yang cukup besar sehingga asumsi untuk beralih strategi dari proyek infrastruktur yang sangat dipengaruhi kondisi politik dan APBN, maka akan beralih ke sektor pertambangan yang lebih stabil," ungkap Gede.

Fokus bisnis pertambangan ini sejalan dengan program pemerintah yaitu hilirisasi tambang dengan tumbuhnya pembangunan smelter yang mendorong permintaan  bahan baku baterai dan peningkatan produksi nikel.

Gede berharap dengan berfokus di strategi ini, bisnis pertambangan mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pendapatan. Pada kuartal III-2023, bisnis pertambangan mendominasi pendapatan PPRE sebesar 78% dan mampu mencatatkan peningkatan kontribusi terhadap revenue sebesar 48%.

Untuk diketahui, PPRE mencatat kontrak baru sebesar Rp 4,9 triliun sampai dengan September 2023, 70% dari target tahun 2023. Capaian tersebut tumbuh 69,2% secara tahunan (YoY) dari sebelumnya Rp 2,93 triliun. Nilai kontrak baru didominasi dari Perseroan sebesar Rp 4,1 triliun atau 84% dari total dan sisanya dari entitas anak PPRE.

Berdasarkan lini bisnis, kontrak baru didominasi dari sektor jasa pertambangan sebesar 78% atau sebesar Rp 3,8 triliun dan disusul jasa konstruksi sipil sebesar 18%.

Baca Juga: Turun 49%, PP Presisi (PPRE) Catat Laba Rp 39,3 Miliar hingga Kuartal III 2023

Jasa pertambangan meliputi pekerjaan mining development dan infrastruktur pendukungnya, sedangkan jasa konstruksi sipil meliputi pekerjaan pembangunan jalan tol, structure work dan production plant.

Dari pemberi pekerjaan, eksternal menyumbang 73% dari total kontrak baru dan PP Group sebesar 27%. Ini seiring dengan strategi perseroan untuk memperluas pangsa pasar eksternal, sekaligus membuktikan PPRE mampu bersaing di sektor konstruksi nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×