Reporter: Vina Elvira | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Prime Agri Resources Tbk (SGRO) melihat peluang perbaikan kinerja seiring rencana percepatan implementasi program biodiesel B50 pada pertengahan 2026.
Kebijakan pencampuran 50% bahan bakar nabati berbasis kelapa sawit dengan 50% solar dinilai akan meningkatkan penyerapan crude palm oil (CPO) di dalam negeri dan menjaga stabilitas harga di tengah gejolak pasar global.
Head of Investor Relations SGRO, Stefanus Darmagiri, menegaskan bahwa lonjakan permintaan domestik berpotensi menciptakan keseimbangan pasar yang lebih sehat.
Baca Juga: CPO Masuk dalam Perjanjian Tarif RI-AS, Begini Respons Prime Agri Resources (SGRO)
“Dengan adanya wacana program B50 yang akan diterapkan pada pertengahan tahun 2026 diperkirakan dapat meningkatkan permintaan CPO domestik, sehingga porsi ekspor akan berkurang. Hal ini diharapkan berdampak terhadap harga CPO yang akan lebih stabil dan lebih baik,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).
Sejalan dengan prospek tersebut, manajemen menargetkan pertumbuhan produksi tandan buah segar (TBS) sekitar 1% pada 2026.
Target ini mencerminkan strategi ekspansi yang konservatif dengan mempertimbangkan dinamika industri sawit global, khususnya fluktuasi harga yang sangat dipengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan.
Saat ini, harga CPO di Bursa Malaysia berada di level RM 4.579 per metrik ton, naik sekitar 13% secara tahunan. SGRO berharap percepatan program B50 dapat menjaga tren harga tetap solid sepanjang tahun.
Baca Juga: Pengendali Baru Prime Agri Resources (SGRO) Tender Wajib, Patok Harga di Rp 7.903
Di sisi ekspansi, perusahaan menyiapkan belanja modal (capex) sebesar Rp 600 miliar hingga Rp 800 miliar pada 2026.
Alokasi ini difokuskan untuk pengembangan bisnis inti dan non-inti, dengan porsi sekitar 44% untuk perkebunan dan 56% untuk kegiatan non-perkebunan, termasuk penambahan aset tetap.
Perubahan struktur kepemilikan juga menjadi bagian dari transformasi perusahaan. Seiring masuknya AGPA Pte Ltd sebagai pemegang saham pengendali menggantikan Grup Sampoerna, perseroan resmi berganti nama menjadi Prime Agri Resources pada tahun ini.
Dari sisi operasional, sejak melantai di bursa pada 2007, luas perkebunan inti sawit SGRO telah berkembang lebih dari dua kali lipat menjadi 81.733 hektare pada 2024.
Baca Juga: Lembaran Baru Prime Agri Resources (SGRO) Pasca Diakuisisi Posco International
Ekspansi terbesar terjadi di Kalimantan, dengan total lahan tertanam inti dan plasma di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat mencapai 48.806 hektare pada akhir 2024.
Untuk mendukung produksi, SGRO mengoperasikan delapan pabrik kelapa sawit, terdiri dari lima unit di Sumatra dengan kapasitas 360 ton TBS per jam dan tiga unit di Kalimantan berkapasitas 150 ton TBS per jam.
Secara kinerja, pendapatan perseroan pada 2025 mencapai Rp 6,44 triliun, tumbuh 16,45% dibandingkan tahun sebelumnya Rp 5,53 triliun.
Kontribusi terbesar berasal dari segmen kelapa sawit sebesar Rp 6,23 triliun, disusul segmen kecambah Rp 205,07 miliar dan lainnya Rp 6,42 miliar.
Baca Juga: Pefindo Beri Peringkat idA untuk Prime Agri Resources (SGRO), Prospek Stabil
Namun demikian, laba bersih SGRO tercatat turun signifikan menjadi Rp 504,77 miliar per akhir 2025, atau menyusut 44,26% secara tahunan.
Kondisi ini mencerminkan tekanan profitabilitas di tengah dinamika harga komoditas, yang diharapkan dapat membaik seiring peningkatan permintaan domestik melalui program B50.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













