kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.743.000   5.000   0,18%
  • USD/IDR 18.206   156,00   0,86%
  • IDX 5.416   -179,00   -3,20%
  • KOMPAS100 713   -23,24   -3,16%
  • LQ45 540   -17,95   -3,22%
  • ISSI 188   -6,37   -3,27%
  • IDX30 305   -10,77   -3,41%
  • IDXHIDIV20 378   -13,39   -3,42%
  • IDX80 81   -2,62   -3,12%
  • IDXV30 104   -2,64   -2,47%
  • IDXQ30 98   -3,93   -3,84%

Rupiah Melemah, Industri Manufaktur Kian Sulit Menahan Kenaikan Harga


Senin, 08 Juni 2026 / 10:31 WIB
Rupiah Melemah, Industri Manufaktur Kian Sulit Menahan Kenaikan Harga
ILUSTRASI. industri manufaktur kesulitan bertahan setelah rupiah tembus ke atas Rp 18.000 per dolar AS


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai menguji daya tahan industri manufaktur.

Bahkan, pada Senin (8/6/2026) pukul 10.24 WIB, rupiah bertengger di level Rp 18.163 per dolar AS. Ini adalah level terburuk rupiah sepanjang masa.

Kendati sebelumnya pelaku industri masih mampu menahan kenaikan harga jual berkat kontrak lindung nilai (hedging), ruang gerak tersebut kini semakin terbatas.

Baca Juga: Kelola 22 Lapangan Migas, Produksi Pertamina EP Capai 205.000 Boepd Sepanjang 2025

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengungkapkan, kemampuan perusahaan melakukan hedging berbeda-beda. Dalam kondisi nilai tukar yang terus tertekan, tidak semua industri dapat memperoleh fasilitas lindung nilai dari perbankan.

"Beberapa industri akan sulit melakukan hedging. Hanya industri yang ekspornya masih bagus yang biasanya masih mendapatkan approval hedging dari bank. Bahkan mereka secara natural mendapatkan dolar AS dari hasil penjualan ekspor," ujar Redma kepada Kontan, Senin (8/6/2026).

Sebaliknya, industri yang berorientasi pada pasar domestik menghadapi tekanan yang lebih besar. Pasalnya, perusahaan tetap harus membeli bahan baku impor dengan kurs yang lebih mahal, sementara pendapatannya diperoleh dalam rupiah.

Menurut Redma, pelemahan rupiah saat ini sesungguhnya sudah melampaui batas toleransi industri. Ia mencatat sejak awal tahun nilai tukar rupiah telah melemah hampir 8%.

"Ini sebetulnya sudah di luar batas toleransi karena dari awal tahun sudah melemah hampir 8%," katanya.

Tekanan kurs tersebut juga meningkatkan peluang terjadinya kenaikan harga jual ke konsumen dalam waktu dekat. Sebelumnya, industri telah menaikkan harga sekitar 15% akibat lonjakan harga bahan baku yang dipicu konflik geopolitik dan perang di sejumlah kawasan.

Baca Juga: Langkah Raymond/Joaquin di Final BWF Super 1000 Perkuat Optimisme Regenerasi

Meski selama beberapa waktu terakhir pelaku usaha masih menahan harga di tengah pelemahan kurs, Redma menilai kondisi saat ini sulit dipertahankan apabila rupiah terus berada di level yang rendah.

"Harga di tingkat konsumen sebelumnya sudah naik sekitar 15% akibat harga bahan baku sebagai efek perang. Meskipun kemarin tidak ada kenaikan dari imbas nilai tukar, dengan pelemahan yang signifikan ini sudah hampir pasti harga akan kembali dinaikkan lagi," ujarnya.

Ia menegaskan, langkah penyesuaian harga bukan dilakukan untuk meningkatkan keuntungan, melainkan agar industri tetap dapat bertahan menghadapi lonjakan biaya produksi.

"Ini dilakukan hanya untuk bertahan saja," kata Redma.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU

[X]
×