Reporter: Vina Elvira | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Prime Agri Resources Tbk (SGRO) turut menilik peluang pertumbuhan kinerja seiring dengan wacana percepatan implementasi program biodiesel B50 pada bulan Juli mendatang.
Kebijakan ini berpotensi meningkatkan penyerapan crude palm oil (CPO) di dalam negeri sekaligus menjaga stabilitas harga di tengah fluktuasi pasar global.
Head of Investor Relation SGRO, Stefanus Darmagiri, menilai peningkatan permintaan domestik akan membantu menciptakan keseimbangan pasar yang lebih baik sehingga pergerakan harga menjadi lebih terjaga.
Baca Juga: Listrik Padam di Jakarta, PLN Akui Terjadi Gangguan Suplai Listrik
“Dengan adanya wacana program B50 yang akan diterapkan pada pertengahan tahun 2026 diperkirakan dapat meningkatkan permintaan CPO domestik, sehingga porsi ekspor akan berkurang. Hal ini diharapkan berdampak terhadap harga CPO yang akan lebih stabil dan lebih baik,” ujar Stefanus, kepada Kontan, Rabu (22/4/2026).
Dari sisi kinerja operasional, pihaknya menargetkan produksi tandan buah segar (TBS) tumbuh sekitar 1% pada tahun 2026. Target ini mencerminkan strategi pertumbuhan yang terukur dengan mempertimbangkan dinamika industri.
Namun demikian, Stefanus tidak memerinci lebih detail terkait target kinerja keuangan tahun ini. Menurutnya, laju bisnis perusahaan akan sangat bergantung pada pergerakan harga CPO global yang ditentukan oleh keseimbangan pasokan dan permintaan.
Dengan begitu, pihaknya berharap dengan adanya program B50 yang dipercepat, dapat menjaga harga CPO tetap solid di sepanjang tahun.
Untuk rencana ekspansi, SGRO menyiapkan alokasi belanja belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp 600 miliar hingga Rp 800 miliar pada 2026. Dana capex tersebut difokuskan untuk mendukung pengembangan bisnis inti dan non-inti.
“Di mana sekitar 44% untuk kegiatan perkebunan dan sisanya sekitar 56% untuk kegiatan non-perkebunan, termasuk penambahan aset tetap,” tandasnya.
Baca Juga: Tangkap Peluang RI, GHD Buka Kantor Baru Bidik Proyek Energi dan Infrastruktur
Sepanjang 2025, SGRO tercatat membukukan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sebesar Rp 6,44 triliun. Ini naik 16,42% dari Rp 5,53 triliun di tahun 2024.
Segmen produk kelapa sawit menyumbang mayoritas, yaitu Rp 6,23 triliun. Lalu, segmen kecambah berkontribusi Rp 205,07 miliar dan segmen lain-lain Rp 6,42 miliar.
Alhasil, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih menjadi Rp 504,77 miliar di 2025. Ini turun 44,26% dari Rp 905,59 miliar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













