Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
SKK Migas memproyeksikan outlook realisasi produksi minyak mentah nasional sampai dengan akhir tahun 2026 hanya mencapai 591.100 bopd. Artinya, masih ada selisih sebesar 18.900 bopd untuk bisa mencapai target APBN.
Djoko membeberkan bahwa SKK Migas menyiapkan lima strategi untuk menutup selisih tersebut.
Pertama, tambahan produksi dari Natural Gas Liquids (NGL) Hilir sebanyak 2.000 bopd.
Kedua, tambahan minyak dari pengurasan dead stock sebanyak 6.800 bopd.
Baca Juga: Pertamina Targetkan Dua Kilang Bensin Rampung 2030, Investasi Capai US$1,2 Miliar
Djoko menjelaskan di dalam stok nasional terdapat 1,57 juta barel minyak siap lifting dan 2,57 juta barel minyak yang dead stock. SKK Migas akan menyalurkan minyak yang selama ini masih tertampung di tangki penyimpanan tersebut.
"Ada dead stock yang sudah kita angkat ke permukaan. Status hari ini 2,57 juta barel. Ini disimpan di tangki, tapi karena jenis minyaknya cukup berat sehingga membeku dan perlu kita cairkan untuk kita lifting," jelas Djoko.
Ketiga, optimalisasi produksi minyak dari sumur masyarakat. SKK Migas menargetkan bisa menambah produksi sebanyak 5.000 bopd dari sumur masyarakat.
Baca Juga: Jelang Mudik Lebaran, Pertamina Patra Niaga Terapkan Inovasi Block Mode untuk Kilang
Keempat, optimasi KKKS yang masih belum berjalan (idle) dengan potensi tambahan produksi 600 bopd.
Kelima, SKK Migas mengincar tambahan 4.500 bopd dari hasil produksi kegiatan pemboran, workover dan well service. "Mudah-mudahan hasilnya bisa melebihi dari target, sehingga bisa mencapai 610.000 (target APBN)," tandas Djoko.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














