kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.784.000   -30.000   -1,07%
  • USD/IDR 17.344   78,00   0,45%
  • IDX 7.101   28,83   0,41%
  • KOMPAS100 958   2,89   0,30%
  • LQ45 684   1,82   0,27%
  • ISSI 255   0,38   0,15%
  • IDX30 380   1,10   0,29%
  • IDXHIDIV20 465   2,14   0,46%
  • IDX80 107   0,37   0,34%
  • IDXV30 136   1,19   0,88%
  • IDXQ30 121   0,39   0,32%

Pertamina Targetkan Dua Kilang Bensin Rampung 2030, Investasi Capai US$1,2 Miliar


Rabu, 29 April 2026 / 18:46 WIB
Pertamina Targetkan Dua Kilang Bensin Rampung 2030, Investasi Capai US$1,2 Miliar
ILUSTRASI. Pertamina targetkan 2 kilang bensin rampung 2030, pangkas impor US$1,25 miliar. Temukan bagaimana ini akan menguatkan ketahanan energi nasional. (REUTERS/Siphiwe Sibeko)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - CILACAP. PT Pertamina (Persero) terus memperkuat ketahanan energi nasional melalui program pengembangan kilang atau refinery development master plan (RDMP). Dalam proyek ini, perseroan menargetkan pembangunan dua kilang bensin di Cilacap, Jawa Tengah dan Dumai, Riau dapat rampung pada 2030.

Langkah strategis ini bertujuan untuk menekan ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM) sekaligus meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri. Proyek kilang tersebut diproyeksikan menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

Direktur Infrastruktur Project dan Aset Integritas Patra Niaga, Setyo Pitoyo, mengungkapkan bahwa total investasi untuk pembangunan dua kilang tersebut diperkirakan mencapai US$1,2 miliar.

“Kurang lebih kalau yang sekarang nanti masing-masing itu sekitar 600 juta dolar, sehingga total akan sekitar 1,2 miliar dolar,” ujarnya kepada media di Cilacap, Rabu (29/4/2026).

Baca Juga: Bea Masuk LPG 0%, Kemenperin: Kabar Baik untuk Industri Petrokimia RI

Meski demikian, Setyo mengakui bahwa aspek pendanaan masih menjadi tantangan utama dalam realisasi proyek ini. Saat ini, perusahaan tengah melakukan berbagai perhitungan kelayakan investasi berdasarkan indikator keuangan utama.

“Sejauh yang saya tahu sekarang memang pendanaan ini cukup challenging. Tapi kita sedang mengusahakan melakukan perhitungan-perhitungan, karena ketika membangun proyek ada indikator-indikator yang harus dipenuhi seperti IRR, payout time, dan lain-lain,” jelasnya.

Jika secara finansial proyek dinilai kurang menarik, Pertamina tetap membuka peluang untuk melanjutkan investasi melalui pendekatan cost-benefit analysis (CBA). Pendekatan ini mempertimbangkan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat dan negara.

“CBA itu apakah proyek ini bisa memberikan dampak positif kepada masyarakat dan negara. Ketika itu menguntungkan, insyaallah akan mendapatkan persetujuan investasi,” katanya.

Kilang yang akan dibangun dirancang untuk memproduksi bensin dengan standar minimal setara Pertamax. Kehadiran dua kilang ini diperkirakan mampu memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan impor BBM.

“Yang jelas dari dua kilang ini potensi penghematan impor 1,25 miliar dolar,” ungkap Setyo.

Baca Juga: Subsidi Motor Listrik Dipangkas, ALVA Ungkap Masalah Utama Ada di Ekosistem

Selain itu, proyek ini juga berpotensi memberikan kontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja. Selama masa konstruksi yang diperkirakan berlangsung antara satu hingga dua tahun, proyek ini dapat menyerap sekitar 2.000 tenaga kerja.

“Berdasarkan pengalaman, ketika kita membangun seperti itu, sekitar 2.000-an orang untuk 1 sampai 2 tahun,” ujarnya.

Untuk mempercepat penyelesaian proyek, Pertamina mempertimbangkan penggunaan metode konstruksi modular. Metode ini memungkinkan proses pembangunan dilakukan secara paralel sehingga dapat menghemat waktu pengerjaan.

“Moga-moga bisa lebih cepat, jadi kita bangun secara paralel, nanti tinggal seperti main puzzle,” katanya.

Di luar proyek kilang, Pertamina juga terus mengembangkan infrastruktur pendukung seperti pembangunan tangki BBM di berbagai wilayah strategis, termasuk Papua dan Nusa Tenggara Timur. Langkah ini dilakukan guna memperkuat distribusi energi secara merata di seluruh Indonesia.

Melalui implementasi RDMP, Pertamina tidak hanya menargetkan peningkatan kapasitas produksi BBM domestik, tetapi juga berupaya memperbaiki neraca perdagangan energi nasional dalam jangka panjang melalui pengurangan impor yang signifikan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×