CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.601.000   -9.000   -0,34%
  • USD/IDR 17.962   0,00   0,00%
  • IDX 6.232   56,24   0,91%
  • KOMPAS100 823   8,72   1,07%
  • LQ45 628   5,84   0,94%
  • ISSI 214   2,70   1,27%
  • IDX30 354   2,95   0,84%
  • IDXHIDIV20 440   1,97   0,45%
  • IDX80 94   1,10   1,18%
  • IDXV30 118   0,63   0,54%
  • IDXQ30 114   0,48   0,43%

Produksi Sapi Lokal Baru Penuhi 30%-40% Kebutuhan, Impor Masih Mendominasi


Senin, 20 Juli 2026 / 16:54 WIB
Produksi Sapi Lokal Baru Penuhi 30%-40% Kebutuhan, Impor Masih Mendominasi
ILUSTRASI. Realisasi impor daging sapi (KONTAN/Fransiskus Simbolon)


Reporter: Vina Elvira | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) menilai produksi sapi potong nasional hingga semester I-2026 masih belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. 

Saat ini, pasokan dari peternak lokal diperkirakan baru mampu memenuhi sekitar 30%–40% dari kebutuhan daging nasional, sehingga sisanya masih bergantung pada impor.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Robi Agustiar mengatakan, salah satu penyebab rendahnya kontribusi produksi lokal adalah sistem peternakan sapi yang masih bersifat tradisional dan belum berkembang menjadi industri.

Baca Juga: Kuota Impor Daging Sapi Belum Terserap, Baru 36% hingga Semester I-2026

"Seperti kita ketahui bahwa kebutuhan produksi daging nasional hanya mampu di penuhi oleh produksi lokal sebesar 30-40% saja, kekurangannya adalah bahwa sistem produksi sapi lokal kita masih bersifat tradisional dan belum mengarah ke Industri. Peternak sapi lokal lebih banyak menjual untuk kebutuhan qurban atau kontes ternak yang sedang marak di lapangan," ujar Robi kepada Kontan, pekan lalu. 

Terkait realisasi impor daging sapi dan sapi bakalan hingga semester I-2026, Robi menyebut pelaksanaannya sangat dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. 

Di sisi lain, tingginya volume impor juga memengaruhi harga sapi hidup di tingkat peternak. Menurutnya, kebutuhan harian daging di Pulau Jawa dan Sumatera sebagian besar dipenuhi dari sapi impor sehingga harga sapi lokal mengikuti pergerakan harga tersebut.

"Tentunya berdampak, hanya karena di daerah Jawa dan Sumatera, hampir seluruh kebutuhan harian daging di isi oleh sapi impor, maka harga sapi lokal yang di jual akan mengikuti harga sapi import di pasaran dan selalu di atas harga sapi import," ungkapnya.

Di sisi produksi, PPSKI menilai peternak masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan populasi bibit sapi yang masih bergantung pada peternak rakyat berksla kecil, yang hanya memiliki 3-5 ekor sapi saja. 

Selain itu, masalah penyakit mulut dan kuku juga masih terus menghantui usaha sapi lokal, di tambah dengan LSD dan beberapa penyakit lainnya. 

Baca Juga: Elnusa Petrofin Tambah 18 Mobil Tangki, Percepat Normalisasi Distribusi BBM di Medan

Memasuki semester II-2026, PPSKI belum melihat adanya prospek peningkatan produksi sapi lokal. Menurut Robi, populasi sapi nasional justru terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

"Sejak 2022 hingga saat ini populasi sapi lokal terus menurun, karena beberapa faktor, penyakit serta penjualan qurban yang turun setiap tahun," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×