kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 17.931   3,00   0,02%
  • IDX 6.196   77,23   1,26%
  • KOMPAS100 798   9,28   1,18%
  • LQ45 610   7,06   1,17%
  • ISSI 217   3,68   1,73%
  • IDX30 340   3,89   1,16%
  • IDXHIDIV20 435   5,17   1,20%
  • IDX80 91   1,10   1,22%
  • IDXV30 118   1,80   1,55%
  • IDXQ30 111   1,02   0,93%

Produktivitas rendah, harga jagung mahal


Kamis, 21 September 2017 / 14:08 WIB


Reporter: | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - Mahalnya harga jagung di Indonesia disebabkan oleh produktivitas yang masih rendah. Sholahuddin, Ketua Umum Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI) mengatakan, produksi jagung yang masih sekitar 5,2 ton per hektar (ha).

Angka tersebut dinilai masih belum maksimal untuk produksi jagung. "Saat ini biaya produksi tinggi tapi produksi rendah," ujar Sholahuddin, Rabu (21/9)

Sholahuddin bilang, untuk meningkatkan pendapatan petani menjadi Rp 1,5 juta per bulan, produksi jagung efektif sebesar 7 ton per ha. Harga jagung pun dijual denga harga Rp 3.600 per kilogram (kg) hingga Rp 3.750 per kg untuk jagung dengan standar air minimal 17%.

Harga yang mahal juga terbentur oleh biaya produksi yang tinggi. Lahan yang dimiliki petani rata-rata sebesar 0,3 ha. Makanya, petani memerlukan sewa lahan. Harga sewa lahan kualitas baik diakui Sholahuddin bisa mencapai Rp. 20 juta per tahun.

Selain biaya sewa lahan, petani pun harus menanggung biaya pengeringan jagung. Biaya pengeringan menggunakan lantai jemur sebesar Rp 70 per kg. Sementara pengeringan menggunakan dryer sebesar Rp 125 per kg. Proses produksi yang masih menggunakan alat manual pun dinilai akan menurunkan produktivitas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×