Reporter: Alya Fathinah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri bioetanol nasional menilai kapasitas produksi saat ini masih jauh dari memadai untuk memenuhi kebutuhan program pencampuran bioetanol 20% atau E20 jika diterapkan secara nasional.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Spiritus dan Etanol Indonesia (Apsendo), Geovanni Garias Pradhana mengatakan industri pada prinsipnya mendukung penerapan E20 sebagai bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional.
Namun, kesiapan industri masih menjadi persoalan. Salah satunya karena ekosistem bahan bakar bioetanol di Indonesia belum berkembang seperti industri biodiesel.
Baca Juga: MR.D.I.Y (MDIY) Gandeng Kintakun, Penjualan Terdongkrak hingga 150%
“Memang kapasitas industri saat ini belum siap dikarenakan industri melihat keberlanjutan dan kepastian serapan, mengingat ekosistem bensin bioetanol ini belum terbentuk atau berkembang seperti halnya biodiesel,” ujar Geovanni kepada Kontan, pekan lalu.
Menurut Geovanni, total kapasitas produksi etanol yang dimiliki anggota Apsendo saat ini mencapai sekitar 366.000 kiloliter (KL) atau 366 juta liter.
Akan tetapi, kapasitas tersebut tidak seluruhnya dapat digunakan untuk bahan bakar. Fasilitas yang telah mampu memproduksi fuel grade ethanol (FGE) atau etanol untuk bahan bakar hanya sekitar 70.500 KL.
Di sisi lain, kebutuhan bioetanol akan melonjak jika program E20 diterapkan secara nasional. Apsendo memperkirakan konsumsi bensin nasional untuk bahan bakar umum dengan RON di atas 90 berada di kisaran 20.000.000 KL. Dengan asumsi tersebut, penerapan E20 membutuhkan sekitar 4.000.000 KL bioetanol E100.
Artinya, kapasitas FGE nasional saat ini baru sekitar 1,8% dari kebutuhan bioetanol yang diperlukan untuk memenuhi skenario tersebut.
“Dengan kemampuan produksi bioetanol nasional saat ini yang hanya 70.500 kiloliter, masih sangat jauh untuk mencapai target E20,” kata Geovanni.
Karena itu, menurut dia, pemerintah perlu segera melakukan langkah konkret untuk meningkatkan kapasitas produksi bioetanol, baik melalui penyiapan bahan baku maupun pembangunan pabrik baru.
Geovanni menilai penerapan E20 secara bertahap atau regional dapat menjadi salah satu opsi untuk membangun ekosistem bahan bakar bioetanol di dalam negeri.
Baca Juga: Laba Bersih Turun di Semester I 2026, Karya Pacific (IATA) Ungkap Penyebabnya
Menurut dia, produsen bioetanol saat ini sebagian besar terkonsentrasi di Pulau Jawa dan satu produsen berada di Lampung. Karena itu, Jawa dinilai berpotensi menjadi lokasi awal apabila implementasi dilakukan secara regional.
“Kalau hari ini E20 dilaksanakan (secara nasional) kami enggak bisa memenuhi. Bukan kami enggak mau, tapi karena memang kapasitas kami terbatas,” ujarnya.
Ia mencontohkan, apabila implementasi E20 dilakukan secara regional di Jawa Timur untuk pasar non-PSO, kapasitas industri masih lebih memungkinkan untuk mendukung kebutuhan tersebut.
Di sisi lain, Apsendo menilai pemerintah juga perlu memberikan kepastian penyerapan. Pasalnya, sejumlah pabrik yang sebelumnya telah dibangun untuk memproduksi bioetanol bahan bakar akhirnya mengalihkan produksinya ke etanol industri karena minimnya pasar bahan bakar.
Geovanni menyebut salah satu contohnya adalah Medco Ethanol Lampung yang terpaksa menutup pabrik setelah beroperasi sekitar lima tahun karena tidak mendapatkan penyerapan untuk bahan bakar.
“Prinsipnya kami sangat mendukung, namun perlu perhatian khusus dari pemerintah kepada hal-hal real yang terjadi di lapangan,” katanya.
Menurut dia, pembangunan ekosistem E20 perlu dilakukan dari hulu hingga hilir agar investasi pada fasilitas produksi bioetanol memiliki kepastian pasar dan keberlanjutan.
Baca Juga: Waskita Karya (WSKT) Kejar Penyelesaian LRT Jakarta Fase 1B Rampung Bulan Ini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
