Reporter: Adisti Dini Indreswari, Fahriyadi | Editor: Havid Vebri
JAKARTA. Setelah mangkrak sejak diluncurkan pada awal tahun ini, program kakao berkelanjutan atau yang disebut dengan Gerakan Nasional (Gernas) kakao akan mulai bergulir bulan November ini. Hal tersebut dipastikan setelah daerah yang akan menjadi tujuan penanaman kakao, seperti Sulawesi dan Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai memasuki musim hujan.
Gamal Nasir, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kemtan) memastikan penanaman kakao di sejumlah sentra kakao akan dimulai bulan November ini hingga akhir tahun.
Menurutnya dari alokasi anggaran untuk kakao berkelanjutan sebesar Rp 1,1 triliun yang termuat dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015, sejauh ini realisasinya baru 20%. "Penyerapan anggaran ini baru untuk kontrak awal menanam bulan ini, sehingga penyerapannya belum maksimal," ujarnya kepada KONTAN, Kamis (5/11).
Kemtan menargetkan, pada musim tanam ini, anggaran tersebut dapat terserap hingga 90% dan hal tersebut dapat tercapai jika melihat gairah petani kakao untuk menanam.
Pesatnya perkembangan industri pengolahan kakao dalam negeri serta mekarnya pasar ekspor biji kakao membuat komoditas ini begitu menarik.
Gamal menargetkan, dengan adanya program kakao berkelanjutan ini, produktivitas biji kakao petani bisa dikerek menjadi 1,5 ton per hektare (ha) dari saat ini hanya 500 kilogram (kg) per ha.
Untuk tahun 2016 mendatang, Kemtan telah mengusulkan anggaran sebesar Rp 600 miliar untuk program kakao berkelanjutan ini. Meski lebih rendah, tapi Gamal optimistis tahun depan program ini bisa diperluas ke banyak daerah,
Zulhefi Sikumbang, Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) tidak terlalu optimistis program kakao berkelanjutan yang akan mulai masuk musim tanam bakal efektif untuk mendongkrak produksi kakao nasional. "Kalau program ini hanya bagi-bagi bibit dan pupuk seperti tahun 2009 dan 2012, jelas tidak akan berhasil," katanya.
Zulhefi bilang, ketimbang bibit dan pupuk, petani kakao lebih membutuhkan tenaga ahli untuk penyuluhan. Selain itu, petani juga membutuhkan pemetaan lahan yang perlu peremajaan atau rehabilitasi, dari total lahan kakao saat iniĀ seluas 1,4 juta ha.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News