kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Progres tol Bawen-Salatiga berjalan lamban


Rabu, 08 Juni 2016 / 17:09 WIB


Sumber: Kompas.com | Editor: Dikky Setiawan

BAWEN. Progres pembangunan Jalan Tol Bawen-Salatiga berjalan lamban. Dalam sepekan, kemajuan fisiknya hanya 1,6 persen.

Direktur Teknik dan Operasi PT Trans Marga Jateng, Arie Irianto mengatakan lambannya pengerjaan tol tersebut karena terkendala cuaca, yakni curah hujan yang tinggi.

Pekerjaan fisik di lapangan per 3 Juni 2016 masih berjalan 43,8 persen. Untuk bisa difungsikan sementara pada saat mudik Lebaran 2016, progres fisik harus mencapai 60 persen.

Artinya, TMJ hanya punya waktu tiga pekan lagi, untuk menggarap sisa target lebih kurang 16 persen. 

"Sekarang targetnya hanya terealisasi 1,6 persen. Padahal per minggunya harus 5 hingga 6 persen. Artinya kan tidak mengejar tiga minggu ini," kata Arie, Rabu (8/6/2016).

Arie mengakui pihaknya bergantung pada data prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk memantau perkembangan cuaca.

Tentang kesiapan Jalan Tol Bawen-Salatiga sendiri untuk arus mudik, pihaknya diundang oleh Polres Semarang untuk memaparkan progres tol serta penyiapan jalur alternatif tol.

"Rabu ini ada pertemuan melibatkan Kapolres Semarang, Kapolres Salatiga, Dishubkominfo, bersama Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) membahas kesiapan dan layak tidaknya jalur dilalui dilanjutkan tinjauan lapangan," papar dia.

Arie menambahkan, molornya pekerjaan fisik sebenarnya dipicu lambannya pembebasan tanah hingga delapan bulan dari target semula.

"Bayangkan coba delapan bulan mundur, dari Oktober 2015 hingga Juni 2016. Itu luar biasa lho. Sudah begitu yang belum bebas bukan tanah datar melainkan tanah kritis dan timbunan serta bobot konstruksinya tinggi," tuntas Arie.(Penulis: Kontributor Ungaran, Syahrul Munir)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×