kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -36.000   -1,33%
  • USD/IDR 17.842   -48,00   -0,27%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

PT Timah (TINS) targetkan smelter Tanah Jarang rampung tahun 2019


Senin, 24 September 2018 / 19:40 WIB
ILUSTRASI. PT Timah Tbk TINS


Reporter: | Editor: Handoyo

“Untuk sementara Pabrik pengolahan skala kecil ini, kami gunakan sebagai laboratorium produksi rare earth element (REE). Di samping untuk meneliti aspek teknis proses pengolahannya, juga meneliti seberapa besar skala potensi produksinya,” ungkapnya.

Dalam berita Kontan.co.id sebelumnya, smelter REE ini akan memiliki kapasitas produksi 500 ton per tahun dengan nilai investasi sebesar Rp 100 miliar dengan luas 110 hektare.

Selama pembangunannya, ada beberapa hal yang menjadi kendala yang membuat tertundanya komersialisasi proyek ini. “Pertama, adanya unsur thorium yang dapat menjadi bahan baku nuklir sehingga kami harus melakukan kerja sama dengan BATAN sebagai perusahaan yang diperbolehkan. ” tuturnya.

Kedua,kata emil, pihaknya juga tengah memastikan metodologi yang sesuai agar menghasilkan suatu potensi skala produksi yang ekonomis. “Karena sesuai namanya, volume kandungannya relatif kecil. Untuk itu, tim kami sedang terus meneliti dan menghitung bagaimana model bisnis dengan mempertimbangkan berapa besar potensi yang ada, tingkat teknologi yang dibutuhkan, nilai investasi, besar skala bisnis, dan faktor pertimbangan studi kelayakan lainnya,” ungkap Emil.

Yang pasti, saat ini kandungan REE ini sudah mencapai sekitar 2%-5% dari 100% bijih timah. Nantinya, TINS bakal memasarkan ke negara-negara industri elektronik seperti Jepang dan Korea. 

"Jadi secara umum dapat dikatakan kami masih terkendala soal perizinan mengingat mineral ini juga dapat dijadikan bajan baku nuklir sehingga butuh perijinan sampai pengawasan khusus,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×