Reporter: Leni Wandira | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Hatten Bali Tbk (WINE) menatap prospek bisnis 2026 dengan optimistis di tengah penerapan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 89 Tahun 2025 yang memperketat pengawasan minuman mengandung etil alkohol (MMEA).
Produsen minuman beralkohol itu menilai regulasi anyar tersebut tidak mengubah arah strategi utama perseroan, melainkan hanya mendorong penyesuaian di sisi operasional.
Direktur Keuangan WINE Ketut Sumarwan mengatakan, sebagai emiten yang sejak awal beroperasi sesuai ketentuan cukai dan regulasi, dampak PMK 89/2025 terhadap kinerja perseroan relatif terbatas. Target kinerja tahun 2026 pun tetap diarahkan pada pertumbuhan berkelanjutan.
“Bagi kami sebagai perusahaan Tbk, penerapan PMK ini tidak mengubah arah strategi bisnis utama Perseroan. Penyesuaian lebih bersifat operasional, sementara target kinerja 2026 tetap difokuskan pada pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujar Ketut kepada Kontan, Jumat (2/1/2025).
Baca Juga: Indonesia Hentikan Impor Solar 2026: Dampak Swasta & Peran Kilang Pertamina
Meski demikian, penguatan pengawasan cukai membawa tantangan tersendiri, khususnya pada sisi operasional dan distribusi. Ketut menjelaskan, sistem pengawasan yang berbasis digital berpotensi menghadapi kendala teknis seperti gangguan sistem atau sinyal, yang dapat memengaruhi kelancaran distribusi.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, WINE memperkuat pengawasan internal dan menyiapkan prosedur cadangan.
"Kami memastikan kesiapan operasional, termasuk penggunaan sistem manual serta koordinasi dengan pihak terkait, agar distribusi tetap berjalan dan kepatuhan regulasi terjaga,” jelasnya.
Di balik tantangan tersebut, manajemen justru melihat peluang pertumbuhan yang lebih sehat. Pengawasan yang lebih ketat diyakini dapat menekan peredaran MMEA ilegal, sehingga mendorong peralihan permintaan ke produk legal dan berizin.
“Perseroan sangat mendukung penerapan regulasi ini. Jika produk ilegal berkurang, pasar legal akan semakin besar dan persaingan industri menjadi lebih sehat. Ini membuka peluang bagi pelaku usaha yang patuh untuk memperkuat posisi pasar dan merek,” kata Ketut.
Dari sisi katalis, sepanjang 2025 hingga menuju 2026 WINE akan mengandalkan peluncuran produk baru serta penguatan merek. Perseroan juga tetap melanjutkan strategi ekspansi, terutama di luar Bali, guna memperluas basis pasar dan menjaga momentum pertumbuhan.
Baca Juga: Pembatasan Truk Tekan Volume Pengiriman Logistik Saat Nataru 2025/2026
“Kami tetap agresif namun terukur. Fokus kami adalah ekspansi di luar Bali serta pendalaman pasar yang sudah ada, agar pertumbuhan berkelanjutan dapat tercapai,” pungkas Ketut.
Dengan kombinasi kepatuhan regulasi, penguatan merek, dan ekspansi pasar, WINE optimistis dapat menjaga kinerja positif dan memanfaatkan peluang dari penataan industri MMEA menuju 2026.
Selanjutnya: Zulhas Sebut Harga Bahan Kebutuhan Pokok Mulai Stabil
Menarik Dibaca: Hujan Sangat Deras di Provinsi Ini, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (3/1)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













