kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -50.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Rencana tarif listrik dipengaruhi harga batubara, Industri TPT: Sebaiknya tidak dulu


Jumat, 02 Februari 2018 / 15:28 WIB
ILUSTRASI. Hotspot Jamper Konduktor SUTT 150 Ribu Volt


Reporter: Agung Hidayat | Editor: Rizki Caturini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dalam waktu dekat ini perhitungan tarif dasar listrik (TDL) bakal disisipi nilai dari harga batu bara acuan (HBA). Menanggapi hal tersebut, pelaku industri tekstil dan produk tekstil (TPT) berharap rencana tersebut dapat dikaji ulang.

Salah satu produsen hilir TPT, PT Asia Pacific Fibers Tbk (POLY) memaklumi bahwa hampir 50% pembangkit listrik menggunakan energi batubara. "Tapi yanh perlu dicermati adalah implementasi yakni acuan harga batubara itu sendiri," ujar Prama Yudha Amdan, Corporate Communication PT Asia Pacific Fibers Tbk kepada Kontan.co.id, Jumat (2/2).

Harga batubara yang mengacu pada pasar internasional sangat fluktuatif. "Saat ini harga batubara sedang melambung jadi menurut kami sebaiknya tidak dulu karena industri TPT baru membaik pasca terpuruk di 2017," tutur Yudha.

Ia menggambarkan, seolah-olah industri TPT dihajar lagi dengan kenaikan tarif tentu tidak baik terhadap kinerja bisnis nantinya. Padahal bisnis sektor ini baru naik setelah sekian tahun belakangan menurun.

Namun jika terpaksa dilaksanakan, Yudha berharap ada sosialisasi kepada pelaku usaha. Sosialisasi tidak hanya sebatas ada acuan baru tapi juga harus ada sosialisasi berupa simulasi dampak atau harga yang akan terjadi, sehingga pelaku usaha dapat mempelajari.

"Karena kita sangat rentan jika terdapat ketidakpastian baik kebijakan yang berubah ubah atau kebijakan yang berubah mendadak," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×