kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Rendemen Tebu Melorot, Produksi Gula Terancam Turun


Rabu, 11 Agustus 2010 / 07:09 WIB


Reporter: Herlina KD |

JAKARTA. Menurunnya rendemen tebu petani dari 7,5% menjadi 6,5% mengakibatkan produksi gula nasional terancam melorot. Dus, target produksi gula nasional sebanyak 2,7 juta ton diperkirakan tidak akan tercapai. Akibatnya tahun ini Indonesia terancam defisit gula.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia (Apegti) Natsir Mansyur mengatakan, akibat rendahnya rendemen gula, produksi gula nasional akan turun dari sekitar 2,7 juta ton menjadi hanya sekitar 2,4 juta ton. Padahal, konsumsi gula nasional sekitar 22 juta ton- 23 juta ton per tahun.

"Yang dikhawatirkan stok gula nasional di akhir tahun yang harusnya sebesar 1,2 juta ton turun menjadi hanya sekitar 800.000 ton," kata Natsir, Selasa (10/8).

Akibatnya, hingga akhir tahun nanti akan terjadi defisit gula nasional sekitar 400.000 ton. Natsir menghitung, jika terjadi defisit gula, maka akan rentan terjadi spekulasi yang menyebabkan harga gula melambung.

"Karena itu peran Bulog mulai saat ini harus menjadi buffer stock," kata Natsir. Menurutnya, Bulog juga harus berperan sebagai stabilisator harga seperti halnya yang selama ini sudah dilakukan di sektor beras.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×