Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi memberikan keuntungan bagi eksportir produk tambang. Namun, di sisi lain, penguatan dolar AS juga meningkatkan beban biaya produksi perusahaan tambang.
Mengutip Bloomberg, rupiah pada Senin (2/11/2026) ditutup di level Rp 18.156 per dolar AS atau melemah 0,05% secara harian.
Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (Aspebindo) Anggawira mengatakan, dampak positif pelemahan rupiah terutama dirasakan perusahaan yang memperoleh pendapatan dari ekspor dalam dolar AS, sementara sebagian besar biaya operasionalnya dibayarkan dalam rupiah.
Meski demikian, pelemahan rupiah tidak serta-merta meningkatkan volume ekspor maupun keuntungan perusahaan. Sebab, sejumlah komponen biaya operasional pertambangan juga masih bergantung pada dolar AS.
"Banyak biaya tambang juga terpapar dolar AS, mulai dari bahan bakar, alat berat dan suku cadang, bahan peledak, teknologi, pembiayaan, hingga sebagian ongkos logistik," kata Anggawira kepada Kontan, Senin (2/11/2026).
Baca Juga: Harga Batubara Naik, Bahlil Buka Peluang Kerek Kuota Produksi 2027
Menurutnya, besaran dampak pelemahan rupiah terhadap kinerja perusahaan bergantung pada posisi bersih valuta asing masing-masing perusahaan. Artinya, perlu dilihat perbandingan antara penerimaan dalam dolar AS dengan biaya operasional dan kewajiban perusahaan yang juga menggunakan mata uang tersebut.
Di satu sisi, pelemahan rupiah dapat meningkatkan nilai penerimaan eksportir dalam rupiah dan memperbaiki daya saing harga dalam kondisi tertentu. Namun, kenaikan biaya impor dan investasi juga berpotensi memperbesar kebutuhan modal kerja serta menekan margin usaha, terutama ketika harga komoditas sedang melemah atau volume produksi terbatas.
"Kontrak penjualan dan lindung nilai juga berpengaruh terhadap seberapa cepat manfaat kurs dirasakan," imbuhnya.
Anggawira menilai, pelemahan rupiah dapat menjadi faktor pendukung bagi kinerja ekspor, tetapi bukan faktor utama yang menentukan peningkatan ekspor pertambangan.
Prospek ekspor tetap lebih dipengaruhi oleh permintaan dan harga komoditas global, kualitas produk, efisiensi produksi, kepastian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta perizinan, hingga kelancaran pelabuhan dan logistik.
Menurutnya, kondisi tersebut tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Nilai ekspor sektor pertambangan pada September 2026 tercatat sebesar US$ 2,86 miliar, turun 9,37% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Data terbaru ini menunjukkan pelemahan kurs belum otomatis mengangkat seluruh ekspor tambang," ungkapnya.
Baca Juga: Laba Bersih RAJA Melesat 82%, Siap Rilis Obligasi dan Sukuk Berimbal Hasil Hingga 9%
Ke depan, Anggawira menilai eksportir perlu menjaga efisiensi operasional, mengelola risiko nilai tukar dan biaya impor, serta memperkuat rantai pasok domestik dengan tetap memperhatikan standar keselamatan dan lingkungan.
Selain itu, ia mendorong peningkatan nilai tambah produk tambang melalui hilirisasi agar manfaat ekonomi yang diperoleh industri dan perekonomian nasional semakin besar.
"Kebijakan ekspor juga perlu tetap selaras dengan kebutuhan dalam negeri dan kewajiban pasokan domestik (Domestic Market Obligation/DMO)," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














