Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten alat kesehatan, PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) mewaspadai sejumlah tekanan eksternal yang berpotensi memengaruhi kinerja perusahaan pada 2026, terutama dari pergerakan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah.
Untuk diketahui, OMED menargetkan pertumbuhan kinerja yang lebih agresif pada 2026. OMED membidik pendapatan (top line) mencapai sekitar Rp 2,4 triliun atau tumbuh sekitar 16% dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.
OMED juga menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 110 miliar hingga Rp 120 miliar pada tahun ini untuk mendukung ekspansi bisnis.
Direktur Keuangan OMED Eka Suwignyo mengungkapkan, pelemahan rupiah yang menembus level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu faktor yang terus dicermati.
Apalagi, sebagian bahan baku perusahaan masih bergantung pada impor atau memiliki keterkaitan dengan harga global berbasis dolar AS.
Baca Juga: Jayamas Medica Industri (OMED) Bidik Kenaikan Ekspor ke AS hingga 50% pada 2026
"Kalau masalah bahan baku, saya harus jujur kebanyakan bahan bakunya impor. Kalau tidak impor pun masih relate ke US Dollar," ujarnya dalam FY2025 Results Call and Q&A OMED secara daring, Jumat (17/4/2026).
Selain nilai tukar, lonjakan harga minyak dunia juga menjadi perhatian. Kenaikan harga energi berpotensi mendorong kenaikan biaya bahan baku turunan, khususnya plastik, yang menjadi komponen utama dalam produksi alat kesehatan.
Manajemen menyebut, jika harga minyak bertahan di level tinggi, misalnya di kisaran US$ 100 per barel hingga pertengahan tahun, maka tekanan terhadap biaya produksi akan semakin terasa.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, OMED menerapkan sejumlah strategi mitigasi. Salah satunya melalui kebijakan natural hedging dengan meningkatkan porsi kas dalam valuta asing guna menjaga stabilitas keuangan di tengah fluktuasi nilai tukar.
Selain itu, perusahaan juga melakukan diversifikasi sumber bahan baku serta skema pembayaran untuk mendapatkan harga yang lebih efisien. Dalam beberapa kasus, perusahaan menyesuaikan mata uang transaksi, antara dolar AS dan yuan China, sesuai dengan pergerakan nilai tukar yang lebih menguntungkan.
Di sisi operasional, OMED juga memperkuat efisiensi produksi dan distribusi guna menekan biaya. Perusahaan mulai mengadopsi otomatisasi dan teknologi di lini produksi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga margin.
Meski menghadapi tantangan global, manajemen menilai kondisi saat ini masih relatif terkendali. Perusahaan juga memiliki cadangan bahan baku yang cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam beberapa bulan ke depan.
Namun demikian, OMED membuka peluang untuk melakukan penyesuaian proyeksi bisnis apabila tekanan eksternal terus berlanjut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













