kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.660.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.935   -9,00   -0,05%
  • IDX 5.896   -102,90   -1,72%
  • KOMPAS100 764   -13,28   -1,71%
  • LQ45 584   -4,02   -0,68%
  • ISSI 203   -5,25   -2,52%
  • IDX30 331   -1,77   -0,53%
  • IDXHIDIV20 408   -0,87   -0,21%
  • IDX80 87   -1,24   -1,41%
  • IDXV30 110   -1,47   -1,32%
  • IDXQ30 107   -0,13   -0,12%

Sapi Australia diboikot, rakyat diminta makan ikan


Kamis, 21 November 2013 / 12:21 WIB
ILUSTRASI. Nasi Tahu Jamur ini sangat sedap dan bisa disajikan dalam waktu 30 menit (dok/Healthy Food Guide)


Reporter: Hendra Gunawan | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), Ismed Hasan Putro mengungkapkan jika sapi impor Australia akan diboikot ke dalam negeri, masyarakat diimbau untuk mengkonsumsi ikan sebagai pengganti daging sapi.

"Kalau sapi Australia diboikot, masyarakat makan ikan saja," ujar Ismed, Kamis (21/11).

RNI sebagai produsen Raja Sapi dalam negeri mengaku tidak perlu mengimpor daging sapi dari Australia. Kendati impor, Ismed ingin agar tidak perlu memesan semua jatah sapi yang ditawarkan. Hal itu untuk menunjukkan wibawa Indonesia di mata negara lain.

"Bisa dong bisnis sapi pesen 100, tapi mintanya 75 dulu, itu untuk melindungi martabat bangsa," ungkap Ismed.

Untuk sementara kerja sama pemerintah dengan Australia ditunda. Hal ini menunggu sampai tahap pemilihan perusahaan Australia. RNI memiliki lahan 25 ribu hektar dan sapi sekitar 10 ribu ekor.

"RNI menghentikan ekspansi bisnis sapi di Australia. Menunggu suasana kondusif. Nunggu atasi ketegangan," jelas Ismed. (Tribunnews.com)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×