kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.879   -21,00   -0,12%
  • IDX 7.995   60,15   0,76%
  • KOMPAS100 1.128   11,02   0,99%
  • LQ45 818   2,35   0,29%
  • ISSI 282   4,49   1,62%
  • IDX30 426   -0,37   -0,09%
  • IDXHIDIV20 512   -3,30   -0,64%
  • IDX80 126   0,89   0,71%
  • IDXV30 139   0,12   0,09%
  • IDXQ30 138   -0,67   -0,48%

Sawit rakyat ramah lingkungan di Jambi


Selasa, 16 Februari 2016 / 10:48 WIB
Sawit rakyat ramah lingkungan di Jambi


Reporter: Adisti Dini Indreswari | Editor: Havid Vebri

JAKARTA. Tata kelola perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan atau sustainability palm oil bukan hanya monopoli perusahaan sawit raksasa. Kini, petani pun sudah mulai menaruh perhatian pada hal tersebut.

Jazuri, pendiri dan pendamping koperasi petani di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Timur Provinsi Jambi menuturkan, petani di daerah tersebut sangat bijak dalam mengelola kebun mereka.

Salah satunya dengan menggunakan pupuk organik dari kotoran sapi ketimbang pupuk kimia. Perkebunan sawit di Tanjung Jabung memang sudah mengintegrasikan kelapa sawit dan sapi. Saat ini ada sekitar 100 ekor sapi diternakkan di sana. "Kami menerapkan sustainability palm oil berdasarkan permintaan perusahaan kelapa sawit yang menjadi mitra kami," ujar Jazuri, Kamis (11/2).

Perusahaan itu sebagian besar sudah mengantongi sertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Di Tanjung Jabung, memang banyak perusahaan sawit. Sebut saja PT Asian Agri, PT Sawit Mitra Jambi (SMJ), PT ABC, PT Trimitra Lestari, PT Agrowiyana, PT DAS, dan PT PAC.

Sementara petani yang menggantungkan hidupnya dari perkebunan sawit di Tanjung Jabung sebanyak 4.500 orang. Mereka mengelola kebun seluas 9.200 hektare (ha), dengan produktivitas 1 ton per ha per bulan.

Banyak keuntungan yang didapat petani dari sutainability palm oil. Selain masalah keberlanjutan, penjualan tandan buah segar (TBS) lebih mudah dan harganya lebih tinggi. Di Tanjung Jabung, harga TBS tingkat petani pekan ini Rp 1.346 per kilogram (kg). Harga naik sejak Januari 2016 setelah anjlok sepanjang tahun lalu.

Menurut Jazuri, tinggal sebagian kecil petani yang masih membuka lahan dengan cara membakar, yang akhirnya menyebabkan kebakaran hutan. "Jumlah petani yang meminjam ke bank buat sewa alat berat terus meningkat," ujarnya.

Selain bank, petani juga meminjam uang untuk biaya sewa alat berat ke koperasi. Makanya, peranan koperasi amat penting bagi praktik sustainability palm oil.            

(Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×