Reporter: Vina Elvira | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Selaras Citra Nusantara Perkasa Tbk (SCNP) memasang target pertumbuhan kinerja yang agresif sepanjang 2026. Perseroan membidik pendapatan sebesar Rp 388,81 miliar, meningkat 61,4% dibandingkan realisasi tahun 2025 yang sebesar Rp 240,89 miliar.
Sejalan dengan target tersebut, SCNP juga menargetkan laba bersih mencapai Rp 24,30 miliar dengan volume produksi sebesar 1.594.062 unit hingga akhir tahun.
Corporate Secretary Division Head SCNP, Tumpal Sihombing, mengatakan manajemen tetap optimistis prospek bisnis pada semester II-2026 masih menjanjikan seiring dengan permintaan yang terus berkembang di dua lini usaha utama perusahaan.
Segmen home appliances diproyeksikan tetap menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan perusahaan. Sementara itu, pada lini bisnis alat kesehatan, SCNP terus memperkuat inovasi produk, meningkatkan infrastruktur, serta melakukan penetrasi pasar secara berkelanjutan.
"Manajemen optimis bahwa target produksi 2026 untuk kedua segmen bisnis ini akan tercapai," ujar Tumpal kepada Kontan.co.id, Rabu (29/7/2026).
Baca Juga: BYD Kuasai 35% Pasar NEV Indonesia, Penjualan Tembus 26.000 Unit Semester I-2026
Kinerja Semester I-2026 Tumbuh Positif
Optimisme tersebut ditopang oleh capaian kinerja sepanjang semester I-2026 yang menunjukkan pertumbuhan solid.
Hingga akhir Juni 2026, SCNP membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 156,58 miliar, naik 41,75% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 110,46 miliar.
Di sisi profitabilitas, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 28,32% menjadi Rp 12,55 miliar, dari Rp 9,78 miliar pada semester I-2025.
Strategi SCNP Kejar Target 2026
Untuk mencapai target kinerja hingga akhir tahun, SCNP telah menyiapkan sejumlah strategi bisnis.
Pada segmen home appliances, perusahaan akan terus menghadirkan inovasi produk serta meningkatkan kapasitas manufaktur agar mampu memproduksi berbagai perangkat dengan margin keuntungan yang lebih tinggi. Perseroan juga mengoptimalkan kanal penjualan dan promosi, baik secara daring maupun luring.
Sementara itu, pada segmen alat kesehatan, SCNP melanjutkan komersialisasi produk Non-Invasive Vascular Analyzer (NIVA) melalui kerja sama business to government (B2G) dengan pemerintah dan rumah sakit daerah.
Sebagai pendukung ekspansi tersebut, SCNP telah mengantongi berbagai sertifikasi dan persyaratan produksi alat kesehatan, antara lain ISO 13485 untuk sistem manajemen mutu alat kesehatan, CPAKB (Cara Pembuatan Alat Kesehatan yang Baik), serta sertifikasi TKDN + BMP untuk produk NIVA dengan nilai 42,33%.
“SCNP siap melanjutkan strategi penetrasi pasar di industri alat kesehatan nasional untuk merealisasi potensi pasar di semester kedua tahun 2026,” tambahnya.
Baca Juga: Hippindo Prediksi Penjualan Ritel Tumbuh 5% pada 2026
Perseroan juga memperluas portofolio bisnis melalui penambahan KBLI 21015 untuk Industri Alat Diagnosis Medis, Perban, Kasa, dan Penunjang Kesehatan Lainnya sebagai bagian dari strategi memperkuat penetrasi pasar alat kesehatan domestik.
Kenaikan Harga Bahan Baku Jadi Tantangan
Meski optimistis terhadap prospek bisnis pada semester II-2026, SCNP tetap mewaspadai sejumlah tantangan yang berpotensi memengaruhi kinerja perusahaan.
Manajemen menilai kenaikan harga bahan baku seperti logam, tembaga, dan resin plastik, serta meningkatnya biaya logistik global masih menjadi tantangan utama bagi industri.
Selain itu, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku. Persaingan dengan produk impor, baik pada segmen home appliances maupun alat kesehatan, diperkirakan masih akan berlangsung ketat.
"Untuk ini, selain upaya perseroan yang berkelanjutan dalam ranah pengembangan produk, kapasitas pabrik dan penetrasi pasar, industri juga membutuhkan dukungan pemerintah dalam upaya menghadapi dinamika persaingan global yang semakin sengit,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














