Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga minyak mentah dunia hingga menembus US$ 100 per barel ikut menambah tekanan biaya bagi industri baja nasional. Meski demikian, dampaknya tidak secara langsung membuat biaya produksi baja naik dalam persentase yang sama.
Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan, dampak kenaikan harga energi berbeda antarprodusen maupun jenis produk baja. Hal ini dipengaruhi teknologi produksi, bauran energi, tingkat konsumsi energi, lokasi fasilitas, hingga struktur biaya masing-masing perusahaan.
Menurut dia, bagi industri baja yang intensif energi, harga gas dan listrik justru menjadi komponen yang lebih signifikan terhadap biaya produksi dibandingkan harga minyak secara langsung.
Baca Juga: Debit Air Turun Imbas El Nino, Produksi PLTA Terancam Anjlok
“Kenaikan harga minyak sendiri lebih terasa dampaknya secara tidak langsung, yaitu melalui penggunaan BBM serta biaya transportasi, angkutan laut, freight, dan distribusi,” kata Harry dalam kepada Kontan, Sabtu (18/9/2026).
Harry menambahkan, kenaikan harga minyak juga dapat merembet ke biaya logistik. Pasalnya, sebagian bahan baku maupun produk baja memiliki rantai pasok panjang yang melibatkan transportasi darat dan laut.
Kondisi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan landed cost bahan baku maupun produk baja. Jika berlangsung terus, kenaikan biaya tersebut berpotensi menggerus daya saing industri baja domestik.
Di sisi lain, IISIA belum memiliki data agregat resmi mengenai sejauh mana kenaikan biaya telah diteruskan ke harga jual. Kebijakan harga jual merupakan keputusan masing-masing perusahaan dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan struktur biaya.
Namun, Harry menyebut kenaikan biaya energi dan logistik berpotensi menekan margin produsen baja. Pasalnya, kenaikan biaya belum tentu dapat langsung diteruskan kepada konsumen dalam besaran yang sama.
“Ketika biaya meningkat sementara harga jual belum dapat menyesuaikan dalam besaran yang sama, sebagian tekanan biaya diserap oleh produsen melalui penurunan margin,” ujarnya.
Ruang penyesuaian harga juga berbeda berdasarkan karakteristik produk. Produk baja bernilai tambah atau memiliki spesifikasi tertentu memiliki ruang penyesuaian harga yang berbeda dengan produk yang lebih bersifat komoditas dan menghadapi persaingan harga lebih ketat.
Tekanan terhadap industri baja domestik juga datang dari produk impor. Karena itu, IISIA menilai diperlukan level playing field serta pengawasan terhadap praktik perdagangan yang tidak sehat agar produsen dalam negeri tidak menghadapi tekanan ganda dari sisi biaya dan persaingan harga.
Baca Juga: Jasa Marga (JSMR) Masih Punya Ruang untuk Tumbuh, Ini Pendorongnya
Ancaman Investasi
Jika harga energi tinggi berlangsung dalam jangka panjang, Harry memperkirakan dampaknya dapat meluas ke tingkat produksi, utilisasi kapasitas, hingga keputusan investasi industri baja.
“Tekanan terhadap biaya produksi dan margin dapat membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam menentukan tingkat produksi,” jelasnya.
Dalam jangka menengah dan panjang, biaya produksi yang semakin tidak kompetitif serta ketidakpastian yang berlangsung lama dapat memengaruhi utilisasi kapasitas dan keputusan investasi perusahaan.
Untuk menjaga daya saing, IISIA meminta pemerintah memperkuat ketersediaan energi yang kompetitif dan andal, khususnya gas dan listrik. Untuk gas, kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) perlu disertai kepastian volume, kontinuitas pasokan, serta efisiensi biaya penyaluran.
“Industri baja termasuk salah satu sektor yang tercakup dalam kebijakan HGBT,” kata Harry.
Selain energi, efisiensi biaya logistik juga menjadi perhatian. Pemerintah dinilai perlu meningkatkan konektivitas, efisiensi pelabuhan dan transportasi, serta infrastruktur pendukung industri.
Di saat yang sama, industri baja perlu meningkatkan produktivitas dan efisiensi energi serta mengembangkan produk bernilai tambah. Dengan begitu, daya saing tidak hanya bertumpu pada harga, tetapi juga efisiensi, kualitas, dan diversifikasi produk.
Baca Juga: Progres 28,5%, Wijaya Karya (WIKA) Targetkan Reservoir DC Semanan Rampung Juli 2027
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














