kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45981,95   -5,95   -0.60%
  • EMAS1.164.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Sinergi TPPI dan Industri Migas Nasional Menopang Inovasi dan Mengurangi Impor


Senin, 21 November 2022 / 09:36 WIB
Sinergi TPPI dan Industri Migas Nasional Menopang Inovasi dan Mengurangi Impor
ILUSTRASI. Kontan - TubanPetro Kilas Online


Reporter: Tim KONTAN | Editor: Ridwal Prima Gozal

KONTAN.CO.ID - Perlambatan ekonomi global menyebabkan permintaan produk-produk bahan bakar minyak (BBM) dan gas dari kilang cenderung menurun. Alhasil, para pemilik kilang tidak bisa hanya mengandalkan produk BBM dan gas untuk mempertahankan dan meningkatkan profitabilitas.

Di sisi lain, permintaan terhadap produk-produk petrokimia terus bertumbuh. Para pelaku industri kilang BBM pun melihat peluang tersebut dan melakukan integrasi dengan menambahkan unit-unit pengolahan petrokimia.

PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) merupakan anak perusahaan PT Pertamina (Persero) (Pertamina) dan PT Tuban Petrochemical Industries (TubanPetro) yang berlokasi di Tuban, Jawa Timur berfokus menghasilkan produk-produk bernilai tambah tinggi yaitu produk-produk petrokimia aromatik. Untuk mendukung tujuan tersebut, TPPI sudah merencanakan untuk mengintegrasikan dua kilang petrokimia utamanya, yaitu kilang petrokimia aromatik dan kilang petrokimia olefin.

Kontan - TubanPetro Kilas Online

Saat ini kilang TPPI telah memiliki Unit Primary (Prefractionation), Unit Secondary (Platforming) dan Unit Downstream (Aromatic) sehingga dapat menghasilkan produk-produk petrokimia aromatik dan memiliki kemampuan strategis dalam memproduksi BBM bagi kebutuhan dalam negeri.

Sebagai informasi, kilang BBM dan petrokimia sama-sama memproses bahan baku hidrokarbon. Perbedaannya adalah kilang BBM berfokus menghasilkan BBM saja, sedangkan kilang petrokimia berfokus menghasilkan produk-produk antara (setengah jadi) sebagai bahan baku produk-produk industri turunannya seperti produk aromatik dan produk-produk olefin.

Mengurangi impor

Selain Naphtha, kilang TPPI Tuban menggunakan kondensat yang merupakan komponen cair dari tambang gas bumi sebagai bahan baku utama. Bahan baku kondensat tersebut kemudian dipisahkan melalui proses distilasi di Unit Primary (Prefractionation) dan menghasilkan dua produk, yaitu Naphtha berat dan ringan.

Selanjutnya, Naphtha berat (heavy naphtha) akan dijadikan reformat melalui proses catalytic cracking di reaktor Unit Secondary (Platforming) dan diproses lebih lanjut ke Unit Downstream (Aromatic). Proses pengolahan tersebut menghasilkan produk petrokimia aromatik seperti benzene, toluene, paraxylene, dan orthoxylene. Bahan-bahan baku petrokimia aromatik ini sangat banyak digunakan untuk menghasilkan produk petrokimia seperti serat-serat sintetik, resin-resin sintetik, bahan plastik sintetik, bahan sabun deterjen, bahan pewarna cat, dan lain-lain.

Sementara itu, produk Naphtha ringan (light naphtha) digunakan sebagai bahan baku kilang petrokimia olefin. Hasil olahan Naphtha ringan dapat menghasilkan variasi produk yang punya nilai tambah tinggi, seperti ethylene dan propylene.

Guna memenuhi kebutuhan pasokan bahan baku bagi industri hilir petrokimia aromatik dalam negeri dan mengurangi impor, kilang TPPI Tuban saat ini dalam proses pengembangan berupa pembaruan dan peningkatan teknologi. Unit Platforming yang menghasilkan reformat akan meningkat kapasitasnya menjadi 55 kBD dari sebelumnya 37 kBD (desain) dan Unit Paraxylene menjadi 780 kTA dari sebelumnya 500 kTA (desain).

Proses peningkatan teknologi baik peralatan maupun catalyst dan chemical menggunakan teknologi terkini dari process licensor. Salah satu peningkatan peralatan utama adalah penggantian komponen internal reaktor Unit Platforming dengan Cat Max. Sementara catalyst atau chemical di Unit Paraxylene berupa adsorbent juga akan diganti dengan jenis terbaru yang lebih baik.

Memasok industri migas

Dalam menjalankan operasionalnya, TPPI sangat didukung oleh PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) yang dikukuhkan melalui kerja sama tolling (tolling contract). KPI memasok semua bahan baku yang dibutuhkan proses produksi kilang TPPI. Selain itu, KPI juga membantu pendistribusian dan penjualan semua produk TPPI.

Setiap tahun, TPPI dan KPI selalu duduk bersama untuk merencanakan kerja sama yang terintegrasi ini. Dalam pelaksanaannya, setiap bulan dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap rencana yang telah ditetapkan.

Beberapa unit proses Refinery Unit KPI memiliki kesamaan teknologi dengan kilang TPPI Tuban, terutama di Unit Naphtha Hydrotreating, Platforming, dan CCR (Continuous Catalyst Regeneration). Karena itu, kedua belah pihak dapat bersinergi dalam menjaga kesinambungan operasi kilang saat ada kondisi darurat kebutuhan catalyst, chemical, atau spare part peralatan yang kompatibel.

Selain itu, sinergi dan integrasi TPPI dengan industri migas nasional ditandai dengan penggunaan bahan baku kilang TPPI yang dipasok dari dalam negeri. Berbagai kondensat dalam negeri yang dapat diolah di TPPI untuk produksi petrokimia aromatik dan BBM antara lain Senipah, Tangguh, BRC, Geragai, Arun, Grissik, dan Pagerungan.

Jika dioperasikan dengan dual mode (Petrokimia & BBM), selain produk aromatic, TPPI juga dapat menghasilkan BBM seperti Pertamax, Pertalite, Pertadex, dan Solar. Peran strategis TPPI sebagai pemasok BBM ke industri migas cukup besar, yang ikut diatur dalam kontrak tolling. Kilang-kilang KPI pun bisa memanfaatkan produk Naphtha ringan dari TPPI sebagai bahan baku campuran pembuat BBM.

Melalui kerja sama dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), TPPI juga telah mendapatkan mandat untuk menjalankan dan mengoperasikan Kilang LPG milik Kemenkeu yang berada di lingkungan Kilang Aromatik TPPI Tuban.

Saat ini, kapasitas produksi BBM di TPPI dapat mencapai 1,68 juta barel/bulan untuk Pertamax atau Pertalite, Solar 300 ribu barel/bulan. Sedangkan kapasitas produksi LPG sebesar 14.400 ton/bulan.

Khusus untuk produk Pertamax, tahun 2021 TPPI memproduksi 13,417 juta barel atau sekitar 2,13 juta kilo liter (KL) yang menopang 37,4% konsumsi sektor transportasi nasional.

Sinergi distribusi produk

Lebih lanjut, integrasi dan sinergi dengan industri migas juga dilakukan pada tataran operasional, melalui pengiriman Naphtha ringan dan berbagai produk lainnya ke kilang-kilang milik KPI.

Distribusi BBM ke pengguna akhir yang dilakukan TPPI dapat menggunakan kapal-kapal milik Pertamina atau pelanggan, mengingat TPPI sudah memiliki pelabuhan yang dapat digunakan untuk sandar oleh kapal-kapal pengangkut BBM. Selain itu, TPPI sudah membuat pipa yang dapat digunakan untuk menyalurkan BBM ke Fuel Terminal Tuban yang merupakan fasilitas tangki milik Pertamina. Distribusi produk LPG saat ini dapat dilakukan melalui kapal ataupun truk.

Produk-produk BBM dan LPG dari TPPI, umumnya disalurkan dan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan wilayah Jatimbalinus (Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara).

TPPI berkontribusi besar mendukung industri migas dalam memenuhi kebutuhan konsumsi energi dalam negeri. Namun, pengoperasian mode aromatik sesuai hakikat kilang TPPI akan lebih mendukung transformasi Pertamina. Terutama dalam menjawab isu profitabilitas kilang dan pengembangan industri petrokimia secara keseluruhan di Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×