kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45927,64   6,18   0.67%
  • EMAS1.325.000 -1,34%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

SKK Migas: Indonesia Potensi Jadi Lokasi Penyimpanan Emisi Karbon


Rabu, 26 Juli 2023 / 04:08 WIB
SKK Migas: Indonesia Potensi Jadi Lokasi Penyimpanan Emisi Karbon


Reporter: Jane Aprilyani | Editor: Jane Aprilyani

KONTAN.CO.ID - Potensi Indonesia menjadi lokasi penyimpanan emisi karbon diyakini SKK Migas mumpuni. Pasalnya, Indonesia disebut memiliki potensi geologis yang besar untuk menjadi titik penyimpanan penangkapan karbon.

“Indonesia memiliki formasi geologi yang dapat digunakan untuk menyimpan karbon secara permanen dengan teknologi yang tepat,” kata Executive Advisor Kepala SKK Migas Luky Yusgiantoro dalam diskusi media roundtable Honeywell di Jakarta, Selasa (25/7). 

Luky mengatakan teknologi carbon capture, utilization, and storage (CCUS) saat ini menjadi primadona yang tepat untuk penyimpanan karbon di industri migas. Teknologi ini memungkinkan emisi karbon yang dihasilkan di hulu migas, ditangkap lalu disimpan ke dalam formasi geologi. 

Dia menambahkan instalasi CCUS merupakan bagian penting dekarbonisasi hulu migas untuk mewujudkan target Net Zero Emission Indonesia 2060. Kementerian ESDM juga sudah menerbitkan Permen No.2/2023 tentang CCUS di industri hulu migas.

“Saat ini sudah ada beberapa proyek CCUS yang sudah dimulai dengan tahap studi. Beberapa proyek ditargetkan mulai beroperasi sebelum 2030,” pungkasnya.

Baca Juga: Pemerintah Mulai Menekan Emisi dari Bursa Karbon

Salah satu perusahaan penyedia teknologi CCUS, Honeywell, menyatakan siap mendukung implementasi teknologi tersebut di Indonesia. Presiden Honeywell Asia Tenggara Steven Lien mengatakan teknologi penangkapan karbon milik Honeywell sudah dipakai di sejumlah negara seperti Amerika Serikat dan Australia.

“Teknologi Honeywell siap untuk menangkap emisi karbon dioksida dari proses industri dan menyimpannya di bawah tanah agar dapat digunakan untuk beragam aplikasi, seperti  pengambilan minyak bumi atau menjadi bahan baku untuk produksi bahan bakar sintetis yang berkelanjutan,” ujar Steven Lien.

Dia menambahkan penangkapan karbon sebelum atau sesudah proses pembakaran industri dapat membantu mengurangi efek gas rumah kaca dan mendukung transisi ke ekonomi rendah karbon.

“Proyek Honeywell sanggup menangkap 40 juta ton CO2 per tahun atau setara dengan emisi lebih dari 8,6 juta mobil,” katanya.

Teknologi-teknologi Honeywell lainnya yang dapat membantu Indonesia mencapai Net Zero Emission pada tahun 2060 kata Steven termasuk: Blue Hydrogen via penangkapan CO2, Bahah-bahan terbarukan (Renewable Fuels) yang dibuat dari e-methanol/ethanol, biomassa serta lemak, minyak, pelumas: Baterai penyimpanan daya (Battery Energy Storage System), dan pendauran plastik (Plastics Circularity) yang menggunakan pendauran kimia canggih.

Baca Juga: Kadin Ajak Berbagai Pelaku Usaha Turunkan Emisi Lewat Net Zero Hub

Selanjutnya: Catat 6 Manfaat Kubis Untuk Kesehatan Tubuh dan Kandungan Nutrisi Didalamnya

Menarik Dibaca: Katalog Promo Indomaret Super Hemat Terbaru Periode 26 Juli-1 Agustus 2023

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×