kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.695.000   18.000   0,67%
  • USD/IDR 17.858   33,00   0,19%
  • IDX 6.461   59,51   0,93%
  • KOMPAS100 834   4,68   0,56%
  • LQ45 634   2,21   0,35%
  • ISSI 227   4,22   1,90%
  • IDX30 355   1,11   0,31%
  • IDXHIDIV20 431   0,98   0,23%
  • IDX80 95   0,46   0,49%
  • IDXV30 119   0,81   0,68%
  • IDXQ30 112   0,25   0,22%

Stok garam menipis, lima perusahaan makanan dan minuman terancam berhenti produksi


Kamis, 08 Maret 2018 / 16:36 WIB
ILUSTRASI. GARAM IMPOR


Reporter: | Editor: Sofyan Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri makanan dan minuman terancam berhenti produksi akibat belum adanya izin impor garam industri. Maklum, saat ini pelaku industri mengaku stok garam semakin menipis.

"Ini terancam ada laporan beberapa industri akan berhenti produksi sementara selama menunggu impor garam," ujar Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi Lukman, Kamis (8/3).

Adhi bilang sejumlah industri makanan ringan, biskuit, dan mi instan mengalami kekurangan bahan baku. Jumlah industri yang terancam berhenti produksi tersebut mencapai lima perusahaan.

Padahal menurutnya, industri makanan dan minuman dinilai mampu memberikan nilai tambah bagi garam yang digunakan. Adhi menjelaskan dari garam seharga Rp 2 sampai Rp 5 dapat menjadi produk seharga Rp 2.000.

Selain itu, industri makanan dan minuman pun memiliki kontribusi yang tinggi bagi Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dari sektor non migas. "Kontribusi makanan minuman cukup signifikan mencapai 35% dari PDB sektor non migas," terang Adhi.

Selain itu, produk dari industri makanan dan minuman pun berorientasi pada ekspor. Oleh karena itu, Adhi meminta kelancaran dalam pemenuhan bahan baku bagi industri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×