Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) atau SIG menempatkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sebagai pilar utama dalam menjaga keberlanjutan bisnis.
Strategi ini tak hanya menekan risiko operasional, tetapi juga berdampak langsung pada efisiensi biaya dan peningkatan produktivitas.
Sepanjang 2025, SMGR mencatat pencapaian zero fatality atau nihil kecelakaan kerja fatal.
Kinerja ini menjadi indikator kuat bahwa implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) berjalan efektif sekaligus memperkuat stabilitas operasional perusahaan.
Baca Juga: Transformasi Digital Dongkrak Efisiensi Bisnis, Peruri Perkuat Sistem Terintegrasi
Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, menegaskan bahwa penerapan prinsip Health, Safety, and Environment (HSE) telah menjadi bagian fundamental dalam seluruh aktivitas bisnis perusahaan.
“Ini menjadi fondasi untuk menjaga keberlanjutan dan kinerja operasional,” ujarnya dalam siaran pers, Minggu (29/3/2026).
Semen Indonesia mengintegrasikan budaya K3 ke dalam strategi bisnis melalui berbagai inisiatif.
Salah satunya adalah penerapan Visible Safety Leadership (VSL), di mana manajemen terlibat langsung di lapangan untuk mengidentifikasi potensi risiko dan melakukan intervensi cepat terhadap kondisi tidak aman.
Pendekatan ini kemudian ditingkatkan menjadi Visible-Felt Safety Leadership (VFSL), yang tidak hanya menekankan kehadiran pimpinan, tetapi juga membangun kepercayaan dan kepedulian yang dirasakan langsung oleh pekerja.
Baca Juga: Transformasi Kepri Mall, RFI Investasikan Rp 200 Miliar Bangun K SQUARE Batam
Model ini dinilai efektif memperkuat kolaborasi dan meningkatkan kepatuhan terhadap standar keselamatan.
Selain itu, Semen Indonesia juga memperkuat sistem melalui pembaruan aturan keselamatan seperti Safety Golden Rules, standarisasi pedoman SMK3, hingga penerapan Contractor Safety Management System (CSMS) bagi seluruh mitra kerja.
Digitalisasi juga dilakukan lewat aplikasi SHESIG untuk pelaporan K3 secara terintegrasi.
Berbagai program peningkatan kapasitas seperti Safety Academy dan SHE Leader’s Talk turut dijalankan untuk memastikan seluruh lini organisasi memiliki pemahaman dan kesadaran yang sama terhadap pentingnya keselamatan kerja.
Baca Juga: Tangkap Peluang Bisnis 2026, Semen Indonesia (SMGR) Perkuat Kolaborasi Strategis
Menurut Vita, budaya K3 yang kuat berangkat dari kesadaran individu dan menjadi kebutuhan bersama dalam organisasi. “Keselamatan adalah tanggung jawab bersama yang mendorong produktivitas dan kinerja,” katanya.
Dengan fondasi tersebut, SIG menargetkan peningkatan safety maturity ke level yang lebih tinggi, guna memperkuat daya tahan bisnis di tengah tantangan industri sekaligus menjaga efisiensi jangka panjang.
Sebagai catatan, konsistensi SIG dalam menerapkan HSE mendapat pengakuan dalam ajang Indonesia Best Companies in HSE Implementation 2026, dengan meraih predikat excellent di kategori perusahaan manufaktur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













