kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Teknologi alternatif, arang bambu dapat dijadikan komponen baterai


Selasa, 14 Agustus 2018 / 21:26 WIB
Teknologi alternatif, arang bambu dapat dijadikan komponen baterai
ILUSTRASI. Ilustrasi batu baterai - battery


Reporter: Ika Puspitasari | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saat ini, Kementerian Perindustrian (Kemprin) terus melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan guna menghasilkan inovasi yang dibutuhkan oleh pelaku industri.

Salah satunya dengan riset dari Baristand Industri Banjarbaru yang mampu menjadikan arang bambu sebagai komponen baterai.

“Jadi, arang bambu sebagai pengganti grafit pada komponen baterai. Bambu yang digunakan adalah bambu betung yang merupakan potensi alam yang ada di Kalimantan Selatan,” ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemprin, Ngakan Timur Antara, Selasa (14/8).

Ngakan mengatakan selama ini komponen baterai kering yang umum digunakan berasal dari bahan grafit. Sementara grafit merupakan mineral tambang alam yang bersifat tidak dapat diperbaharui. 

“Potensi tambang grafit di Indonesia terdapat di Pulau Sumatera dengan sisa produksi tambang sekitar 2 juta ton atau dengan luasan area 30 hektare,” tuturnya.

Oleh karena itu, untuk mengurangi konsumsi karbon yang bersumber dari mineral alam, perlu dicari bahan baku yang bersifat lestari, seperti bambu. “Bambu memiliki komponen lignoselulosa tinggi sehingga kadar karbon dan oksigen melebihi 90% dari berat keseluruhan,” kata Ngakan.

Arang bambu dibuat melalui metode pirolisis, yaitu bambu dikarbonisasi pada suhu 500-600°C dengan menggunakan peralatan khusus. Nantinya, arang yang dihasilkan diaktivasi memakai bahan kimia asam dan basa serta diberikan tambahan logam untuk menaikkan kapasitas listriknya. 

Logam yang digunakan adalah logam seng (Zn) dan nikel (Ni). “Kemudian, dibuat partikel nano menggunakan high energy mechanic (HEM) berbasis Ball Mill. Karbon yang dihasilkan diuji struktur dan sifatnya menggunakan Pressure Swing Adsorption (PSA), Scanning Electron Microscopy (SEM), X-ray diffraction (XRD), dan konduktivitas,” papar Ngakan.

Ngakan meyakini, arang bambu akan mempunyai nilai atau kapasitas listrik yang lebih optimal apabila dapat dibentuk partikel ukuran nano. Pada tahap ini, masih dilakukan pengembangan lanjutan. 

“Daya Hantar Listrik (DHL) paling tinggi diperoleh pada arang bambu betung dengan aktivator KOH dan di-dopping oleh logam Zn dengan nilai DHL 7,02 mS/cm,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×