Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Cuaca hujan ekstrem belakangan ini memengaruhi sektor perikanan, khususnya aktivitas melaut para nelayan.
Sekretaris Jenderal DPP Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), Niko Amrullah mengatakan bahwa cuaca ekstrem pada awal tahun ini menurunkan pendapatan hingga 50% dibanding saat musim melaut.
"Penghasilan nelayan kecil per hari pada musim melaut berkisar maksimal Rp 400.000 sampai Rp 650.000. Namun, di saat cuaca buruk, penghasilan menurun menjadi Rp 200.000 sampai Rp 400.000 per hari," katanya kepada Kontan, Minggu (25/1/2026).
Lebih lanjut, Niko mengungkap, banjir memicu air meluap pada tambak dan menyebabkan gagal panen, serta jebolnya tanggul tambak.
Baca Juga: Waspada, Ada Potensi Cuaca Ekstrem di Jakarta hingga 6 November 2025
Ia melihat bahwa cuaca ekstrem di awal tahun ini memiliki dampak yang lebih signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sebab, wilayah Indonesia secara merata tengah mengalami curah hujan yang tinggi, angin, beserta gelombang tinggi.
Jika dilihat dari lama waktu tak melaut, Niko mengungkap perairan Jawa Barat menjadi salah satu yang paling terdampak. Ia mencontohkan, hampir tiga sampai empat bulan nelayan di Karawang tak melaut. "Sementara di daerah lain, berkisar kurang dari 30 hari tidak melaut," tambahnya.
Ke depan, Niko berharap asuransi keselamatan kerja di laut harus segera ditunaikan dengan segala bentuk inovasi pembiayaan.
Baca Juga: BMKG Kembali Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Akhir Tahun
Ia juga menyarankan pemerintah dapat mulai berorientasi pada digitalisasi keselamatan melaut, serta penyediaan infrastruktur yang adaptif terhadap perubahan iklim. "Untuk diketahui, Vietnam dan Thailand sudah ke arah sana," tutup Niko.
Selanjutnya: Pemerintah Bakal Batasi Investasi Asing di Bali, Ini Kata Ekonom
Menarik Dibaca: 5 Manfaat Rutin Minum Kopi Setiap Hari untuk Kesehatan Tubuh
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













