kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45936,02   -27,70   -2.87%
  • EMAS1.321.000 0,46%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Terhimpit impor, produsen TPT terapkan pengurangan produksi hingga diversifikasi


Minggu, 04 Agustus 2019 / 16:55 WIB
Terhimpit impor, produsen TPT terapkan pengurangan produksi hingga diversifikasi


Reporter: Agung Hidayat | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ramainya barang impor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) turut mendorong lesu industri dalam negeri. Beberapa perusahaan ada yang tengah mengurangi produksinya sambil melakukan diversifikasi baik dari segi jenis barang maupun segmen pasar.

Terkait penurunan produksi, beberapa pabrikan diketahui melakukannya seperti PT Argo Pantes Tbk (ARGO) yang semula memiliki kapasitas produksi kain sebesar 2 juta yard per bulan di tahun 2018 menjadi 1,78 juta yard per bulan sepanjang paruh pertama tahun ini.

Deepak Anand, Direktur Utama ARGO tak memberikan detil terkait kondisi pasar dalam negeri, namun efisiensi ini harus dilakukan demi memperoleh margin yang lebih baik. "Produksi memang agak mengalami penurunan. Karena ada beberapa item yang kami kurangi, demi profitability tetap terjaga," ujarnya.

Baca Juga: Regulasi lemah, industri tekstil domestik hadapi ancaman impor

Carel Christanto, Direktur PT Asia Pacific Investama Tbk (MYTX) juga mengatakan bahwa sanksi AS terhadap China, menyebabkan negara tirai bambu itu mencari sasaran ekspor baru. "Indonesia akan dibanjiri produk tekstil China dalam waktu dekat dan industri dalam negeri dalam bahaya besar," sebutnya kepada Kontan.co.id, Minggu (4/8).

Sampai paruh pertama tahun ini, pendapatan bersih MYTX mengalami penurunan hingga 21% yoy menjadi Rp 853,87 miliar. Di tengah kondisi ini, produsen benang dan kain mentah ini tengah memikirkan bagaimana agar dapat mendiversikasi produk, dimana manajemen sedang mengkaji kemungkinan masuk ke bisnis hilir yakni produk garmen.

Demand akan produk tekstil hulu di tingkat lokal memang dinilai masih melemah, apalagi impor cenderung mengganggu pasar. Padahal produsen benang dan serat filamen seperti PT Asia Pacific Fibers Tbk (POLY) mengandalkan pasar lokal, mengingat 70%-75% penjualan berasal dari dalam negeri.

Baca Juga: Impor melonjak, bisnis industri tekstil tertekan di paruh pertama 2019

Ravi Shankar, Direktur Utama POLY menyebutkan permintaan dari industri weaving dan knitting cenderung melemah. Bahkan utilisasi beberapa pelanggan serat filamen POLY dapat turun hingga 50%, hal ini kata Ravi, tentu berpengaruh pada sales perseroan.

Terkait target pendapatan US$ 506 juta sampai US$ 510 juta di tahun ini, Ravi mengatakan bahwa proyeksi tersebut masih tetap dikejar. Menurutnya pasar domestik dapat dipulihkan jika ada koreksi di regulasi perdagangan tentang pembatasan impor.

Merujuk pada laporan keuangan perseroan pada semester-I 2019 tercatat penjualan POLY senilai US$ 213,32 juta atau turun 7,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya US$ 229,63 juta. Oleh karenanya perseroan berusaha menggenjot peluang di pasar ekspor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Negosiasi & Mediasi Penagihan yang Efektif Guna Menangani Kredit / Piutang Macet Using Psychology-Based Sales Tactic to Increase Omzet

[X]
×