Reporter: Asnil Bambani Amri | Editor: Asnil Amri
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis teknologi iklim di mulai menarik dukungan pendanaan untuk mendorong solusi lingkungan masuk ke tahap komersialisasi. Hal ini tercermin dari hasil seleksi Climate Impact Innovations Challenge (CIIC) 2026 yang memberikan dana katalitik total Rp15 miliar kepada tiga pemenang dari beberapa negara.
Kompetisi yang digelar East Ventures bersama Temasek Foundation dan Tencent tersebut memilih CRecTech, Blueyou, dan MacroCycle Technologies sebagai pemenang dalam tiga kategori berbeda. Masing-masing pemenang memperoleh dana katalitik sebesar Rp5 miliar untuk menguji coba solusi mereka di Indonesia.
Partner East Ventures Avina Sugiarto mengatakan pendanaan tersebut diharapkan dapat membantu para inovator mengubah teknologi iklim menjadi solusi yang memiliki dampak nyata sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Baca Juga: Tokyo Gas Akuisisi AGP Indonesia, Bangun Jaringan LNG Antarpulau
"Keberlanjutan bukan hanya tentang menjawab tantangan iklim saat ini, tetapi juga membangun fondasi bagi pertumbuhan jangka panjang yang tangguh," kata Avina dalam keterangan resmi, Rabu (7/10).
Salah satu inovasi yang mendapat pendanaan adalah CRecTech. Perusahaan yang berbasis di Singapura itu memenangkan kategori Transisi Energi melalui teknologi pengolahan biogas dari limbah cair pabrik kelapa sawit menjadi bio-metanol.
CRecTech mengklaim teknologinya mampu menekan biaya hingga 50% dan mengurangi emisi hingga 93%. Co-Founder & CEO CRecTech Lim Kang Hui mengatakan pendanaan tersebut akan digunakan untuk mempercepat tahap uji coba hingga penerapan komersial di Indonesia. "Kami akan mempercepat tahap uji coba dan penerapan komersial di Indonesia bersama mitra lokal, termasuk Pertamina," ujarnya.
Selain memperoleh dana katalitik Rp5 miliar, CRecTech juga mendapat hibah US$50.000 dari Sinar Mas Agribusiness & Food. Vinerock Capital turut memberikan investasi US$50.000 kepada perusahaan tersebut.
Baca Juga: Ekspor Indonesia Tumbuh, DHL Perkuat Keamanan Rantai Pasok di Tengah Risiko Kargo
Potensi pengembangan bio-metanol menjadi salah satu daya tarik inovasi ini. CRecTech memanfaatkan limbah yang sebelumnya belum optimal digunakan untuk menghasilkan bahan bakar berkelanjutan.
Restorasi mangrove
Sementara itu, Blueyou memenangkan kategori Solusi Alam & Pangan. Perusahaan ini mengembangkan model restorasi mangrove di lahan terdegradasi yang dipadukan dengan produksi pangan biru.
Model tersebut tidak menggunakan pakan maupun bahan kimia. Blueyou mengklaim pendekatan tersebut dapat meningkatkan pendapatan petani kecil hingga tiga kali lipat. Blueyou juga memperoleh investasi tambahan US$50.000 dari Mana Impact.
Head of Climate and Liveability Temasek Foundation Heng Li Lang mengatakan dukungan pendanaan diperlukan agar solusi yang dikembangkan para inovator dapat divalidasi dan diperluas penerapannya. "CIIC akan mendukung para inovator di bidang iklim untuk memvalidasi, mengembangkan skala, dan pada akhirnya menjawab sejumlah tantangan iklim terbesar," ujarnya.
Baca Juga: Perkuat Infrastruktur Digital, Biznet Siapkan Kabel Bawah Laut BNCS-2
Adapun Tencent akan memberikan komitmen pra-pembelian kredit karbon senilai US$1 juta kepada Yagasu dalam rangkaian Grand Finale CIIC 2026.
Dari sektor ekonomi sirkular, MacroCycle Technologies dari Amerika Serikat (AS) menjadi pemenang dengan teknologi daur ulang poliester dari tekstil menjadi tekstil kembali. Teknologi tersebut diklaim mampu mengurangi penggunaan energi hingga 80%, emisi karbon dioksida 80%, dan penggunaan air hingga 99%.
Produk hasil daur ulang tersebut juga ditawarkan dengan harga yang setara dengan produk konvensional. Co-Founder & CEO MacroCycle Technologies Stwart Pena Feliz mengatakan pendanaan CIIC membuka peluang bagi perusahaan untuk mempercepat proyek pertamanya di Asia, termasuk Indonesia.
"Penghargaan ini memungkinkan kami untuk secara resmi meluncurkan proyek pertama kami yang berbasis di Asia dan mulai menangani secara langsung besarnya volume limbah tekstil yang terdapat di kawasan ini," katanya.
Menurut Stwart, peluang pasar Asia cukup besar karena lebih dari 80% manufaktur tekstil dunia berlangsung di kawasan tersebut.
Baca Juga: Apindo: Usulan 45 Jam Kerja Sepekan Hanya untuk Studi Banding
CIIC 2026 merupakan edisi keempat yang diluncurkan pada 8 April 2026. Kompetisi ini mengumpulkan lebih dari 850 pendaftar dari sekitar 60 negara. Dari jumlah tersebut, sembilan finalis terpilih mengikuti Grand Finale pada 6 Oktober 2026 yang menjadi sesi tematik dalam Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026.
Tiga sektor yang menjadi fokus kompetisi tahun ini yakni Transisi Energi, Solusi Alam & Pangan, serta Ekonomi Sirkular. Vice President for Sustainable Social Value Tencent Xu Hao mengatakan dukungan terhadap inovator diperlukan untuk menjembatani teknologi dengan penerapan di lapangan.
"Dengan membantu para inovator menguji solusi mereka melalui pilot di Indonesia, CIIC menjadi jembatan penting antara ide-ide yang menjanjikan dan dampak nyata di lapangan," ujar XU Hao.
Dengan demikian, total dukungan yang mengalir dalam ajang CIIC 2026 tidak hanya berupa dana katalitik Rp15 miliar. Sejumlah perusahaan juga telah menyatakan komitmen investasi, hibah, dan pembelian kredit karbon untuk membantu solusi teknologi iklim masuk ke tahap pengembangan berikutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














