kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.988.000   -4.000   -0,13%
  • USD/IDR 17.017   7,00   0,04%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

USTDA Danai Proyek Percontohan Teknologi Pengolahan Mineral Kritis AS di Indonesia


Selasa, 17 Maret 2026 / 14:12 WIB
USTDA Danai Proyek Percontohan Teknologi Pengolahan Mineral Kritis AS di Indonesia
ILUSTRASI. USTDA (USTDA/ist)


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Perdagangan dan Pembangunan Amerika Serikat (USTDA) mendukung penerapan teknologi inovatif asal Amerika Serikat (AS) untuk mendiversifikasi rantai pasok mineral kritis AS dengan meningkatkan pengolahan litium dari operasi energi panas bumi di Indonesia.

Melalui proyek percontohan yang didanai USTDA, Lilac Solutions, Inc. (Lilac) yang berbasis di California, AS akan mendemonstrasikan teknologinya di fasilitas milik pengembang panas bumi milik BUMN Indonesia, PT Geo Dipa Energi (GDE).

Fasilitas ini akan menjadi yang pertama di Indonesia yang mengekstraksi litium dari air panas bumi. Proyek ini akan menciptakan sumber pasokan litium yang tepercaya, komponen penting bagi banyak teknologi modern, sekaligus mendukung sumber energi vital bagi Indonesia.

“Keamanan dan kemakmuran Amerika bergantung pada akses terhadap mineral kritis dari sumber yang tepercaya,” ujar Thomas R. Hardy, Wakil Direktur USTDA dalam keterangan tertulis, Senin (16/03/2026).

“Proyek ini menyoroti nilai solusi AS dalam membangun rantai pasok yang tangguh dan mendorong pengembangan sumber daya yang bertanggung jawab bersama mitra kami di Indonesia,” tambahnya.

Baca Juga: RKAB Dipangkas, Industri Smelter Hadapi Gap Pasokan Nikel Hingga 100 Juta Ton

Lilac akan menerapkan teknologi pengolahan litium langsung berbasis pertukaran ion di lapangan panas bumi Dieng, Jawa Tengah, untuk menunjukkan metode yang bertanggung jawab dan efektif dalam pengolahan serta pemurnian litium menjadi litium karbonat berkualitas tinggi.

Dukungan USTDA juga akan menghubungkan Geo Dipa dengan calon pembeli litium karbonat asal AS. Dengan mendemonstrasikan keberhasilan dan skalabilitas teknologi Lilac, proyek ini bertujuan menarik pendanaan untuk ekspansi di masa depan dan membuka peluang baru bagi lanskap panas bumi yang luas di Indonesia dan kawasan Indo-Pasifik.

“Dukungan USTDA menandai langkah penting dalam memperkuat kemandirian Indonesia dalam memenuhi kebutuhan litium serta mempererat kolaborasi strategis antara Indonesia dan Amerika Serikat,” kata Yudistian Yunis, Direktur Utama Geo Dipa.

“Inisiatif ini dapat mendukung pengembangan industri baterai Indonesia dan aplikasi litium domestik lainnya dengan membuka nilai tambah dari sumber daya terbarukan. Litium secara alami terkandung dalam air panas bumi yang sudah menjadi bagian dari operasi panas bumi yang ada, sehingga kami dapat menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal sambil tetap menjaga kelestarian lingkungan,” tambahnya.

Yudis menambahkan, dukungan USTDA berperan sebagai katalis dengan mempercepat akses terhadap inovasi dan keahlian Amerika, sekaligus memfasilitasi koneksi dengan calon pembeli asal AS. Dengan mendemonstrasikan model yang bertanggung jawab dan layak secara komersial, kolaborasi ini diharapkan dapat menarik investasi lebih lanjut dan memperkuat skalabilitas proyek jangka panjang.

Ia juga menjelaskan, kemitraan ini mencerminkan kerangka kerja yang saling menguntungkan, meningkatkan ketahanan rantai pasok, mendorong pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, dan memberikan nilai strategis bersama bagi Indonesia dan Amerika Serikat.

Baca Juga: RKAB Dipangkas, FINI: Pasokan Nikel Tak Akan Mencukupi Kebutuhan Industri Hilirisasi

Dalam kesempatan yang sama Raef Sully, CEO Lilac, mengatakan, USTDA membuka peluang bagi perusahaan teknologi AS untuk bersaing secara global.

“Lapangan panas bumi Indonesia memiliki potensi litium yang besar dan belum dimanfaatkan, dan proyek ini akan membuktikan bahwa teknologi pertukaran ion Amerika dapat mengoptimalkannya secara bertanggung jawab dan berskala besar,” ungkapnya.

Sebagai informasi, USTDA memiliki peran untuk mendanai pekerjaan teknis awal yang mempercepat pengembangan proyek infrastruktur, membantu proyek tersebut menarik pendanaan yang dibutuhkan untuk implementasi dan pengadaan barang serta jasa asal AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×