Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Target pemerintah untuk mendorong utilisasi kapasitas industri nasional ke level 80%-85% hingga akhir 2026 masih menjadi tantangan bagi industri baja. Pasalnya, utilisasi kapasitas produksi industri baja nasional saat ini masih berada di kisaran 50%-60%.
Direktur Eksekutif Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan, tingkat utilisasi tersebut bervariasi antarsegmen produk, mulai dari industri hulu hingga hilir.
"Dibandingkan tahun lalu, peningkatan utilisasi industri baja masih menghadapi sejumlah tantangan," kata Harry dalam keterangannya kepada Kontan, Rabu (28/10/2026).
Menurut dia, meski aktivitas ekonomi dan permintaan domestik terus didorong, produsen baja nasional masih menghadapi tekanan persaingan di pasar dalam negeri. Salah satu tantangan utama berasal dari masuknya produk baja impor.
Kondisi tersebut membuat ruang bagi produsen domestik untuk meningkatkan produksi dan mengoptimalkan kapasitas terpasang menjadi terbatas.
Baca Juga: Pemerintah Berburu Pasokan BBM dari China-India, Ekonom: Singapura Masih Mendominasi
Harry menilai, target utilisasi 80%-85% merupakan sasaran yang menantang bagi industri baja nasional. Pencapaiannya akan sangat bergantung pada pertumbuhan permintaan, peningkatan daya saing produsen domestik, serta efektivitas kebijakan pemerintah dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif.
Selain tekanan impor dan kelebihan kapasitas produksi baja global, industri juga menghadapi persoalan persaingan harga dan dugaan praktik perdagangan yang tidak adil.
Karena itu, pemerintah perlu memperkuat pengawasan terhadap impor, termasuk terkait dugaan dumping serta kesesuaian klasifikasi HS, uraian barang dan dokumen impor.
Di sisi lain, penyerapan baja produksi dalam negeri juga perlu diperkuat melalui kebijakan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), terutama dalam proyek pemerintah dan BUMN.
"Dengan demikian, peningkatan utilisasi tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan permintaan," ujar Harry.
IISIA mendorong pemerintah memperkuat sejumlah kebijakan, antara lain memastikan akses industri baja terhadap Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) serta menjaga tarif listrik industri tetap kompetitif.
Selain itu, kepastian bahan baku juga menjadi perhatian melalui tata kelola impor berbasis Neraca Komoditas yang akurat dan transparan serta optimalisasi bahan baku domestik, termasuk scrap.
Harry juga meminta pemerintah memperkuat pengawasan impor dan penerapan SNI wajib serta mengoptimalkan instrumen trade remedies seperti antidumping, bea masuk imbalan dan safeguard.
Di sisi pembiayaan, pemerintah dinilai perlu mengkaji insentif fiskal dan pembiayaan untuk modernisasi teknologi, efisiensi produksi, serta pengembangan industri baja rendah emisi.
Menurut Harry, kombinasi penguatan pasar domestik, efisiensi produksi, pengawasan impor dan kebijakan perdagangan yang tepat sasaran diperlukan agar kapasitas produksi baja nasional dapat lebih optimal.
Baca Juga: Perusahaan Keluarga Mochtar Riady Tambah 50% Kepemilikan Gedung di Sydney
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














